Metode Pembelajaran ‘Cukup Tau’

oleh: Anugrah Mi’raj Zulfikar*

Kualitas pendidikan bangsa ini banyak ditentukan oleh kualitas para gurunya. Sebagus dan semodern apa pun kurikulum dan perencanaan strategis pendidikan dirancang, jika tanpa guru yang berkualitas, tidak akan membuahkan hasil optimal. Apalagi dalam rangka pelaksanaan pendidikan formal, guru menjadi pihak yang sangat vital. Siswa akan kesulitan dalam belajar jika hanya mengandalkan sumber belajar dan media pembelajaran saja, tanpa adanya bimbingan guru. Yang patut dipertanyakan adalah: sejauh mana efektivitas peran guru dalam menciptakan pembelajaran yang menunjang terhadap pencapaian tujuan pendidikan?

Terdapat berbagai metode pembelajaran yang dapat diterapkan guru untuk mencapai tujuan pendidikan yang dicita-citakan, yang disesuaikan dengan kebutuhan siswa sebagai subjek didik. Namun pada faktanya, metode yang begitu populer di kalangan guru dewasa ini adalah metode pembelajaran “CUKUP TAU”. Artinya, guru hanya berperan sebagai transfer of knowledge saja, bukan sebagai transfer of values.

Hal ini tentu berpengaruh terhadap pribadi siswa sebagai subjek didik. Sesuai dengan metode tersebut diatas, maka terhadap pembelajaranpun para siswa hanya “cukup tau” dalam pemahaman saja. Mereka hanya memahami teori secara konseptual, tanpa bisa mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai contoh, setelah menyelesaikan pembelajaran mengenai pendidikan kewarganegaraan, tentu siswa memahami apa, bagaimana, dan  mengapa demokrasi itu ada.  Tetapi, mereka tak mampu melaksanakannya secara praktis dalam kehidupan di masyarakatnya. Contoh lain dalam pendidikan agama dan moral, tentu guru memberikan pemahaman tentang akhlak yang baik secara normatif, tetapi masih banyak siswa yang “cukup tau”, tanpa mampu mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

Seperti dijelaskan diatas, murid yang “cukup tau” terhadap materi pelajaran, merupakan akibat dari metode pembelajan “cukup tau” yang diterapkan oleh guru. Lebih jauh lagi, guru yang menerapkan metode ini, mungkin juga “cukup tau” terhadap tujuan pendidikan, tanpa ada keinginan untuk mewujudkannya. “Cukup tau” terhadapa kurikulum yang seharusnya, tanpa ada usaha untuk mengimplementasikannya. “Cukup tau” terhadap metode pembelajaran efektif, tanpa ada keinginan untuk menerapkannya. “Cukup tau” terhadap kondisi dan kebutuhan siswa, tanpa ada keinginan untuk beridentifikasi dengannya. “Cukup tau” terhadap materi yang akan mereka sampaikan, tanpa ada hasrat untuk berkembang dan belajar lebih jauh lagi. Kesimpulannya, metode pembelajarn “cukup tau” ini timbul dari berbagai “KECUKUP TAUAN” yang tertanam dalam mindset guru dewasa ini.

Pentingnya peranan dan kualitas seorang guru berdampingan dengan banyaknya problematika yang dihadapi. Hal yang mendasar pada problem tersebut adalah kemauan guru untuk maju. Kenyataan yang terjadi adalah sebaliknya. Guru tidak memiliki kemauan untuk belajar. Guru tak memiliki motivasi untuk berkembang dan maju ke arah yang lebih baik.

 

*penulis adalah mahasiswa aktif dan anggota CSSMoRA Universitas Pendidikan Indonesia angkatan 2015

Facebook Comments





Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *