Mesin Waktu Markomat

(Oleh : Ahmad Ahnaf Rafif)

“Ilmuwan belum bisa memastikan apakah mesin waktu itu benar-benar ada atau tidak,” cetus Markomat.
“Tidak usah sok saintis, Mat,” tanggap Kasub.
“Bukan apa, Sub. Kamu pernah baca tidak kalau ada orang-orang yang bisa menjelajahi waktu. Mereka itu, Sub, dinamakan para penjelajah waktu. Time traveler, Sub.”
“Iya aku pernah baca.”
“Nah berarti kamu tahu dong gambar orang yang pake kacamata hitam setelan jaket keren yang di dalemnya itu kaos model-model Denim ? Padahal di sekitarnya orang-orang masih pake baju-baju culun. Jelas sekali, Sub. Mana ada orang waktu itu pake pakaian yang kayak begituan ? Itu kan setelan anak muda zaman sekarang. Jelas, dia itu time traveler !”
“Berlebihan kamu itu, Mat! Jangan mau dibohongi sama selembar poto yang tak berbicara. Aku tak mengkopi perkataan Pak Basuki lo ya!”
“Hmmm.. Ya terus maksud kamu gimana ?”
“Ah, Mat! Jangan mentang-mentang ada yang berbeda dengan lingkungan sekitarmu, langsung kamu anggap aneh. Apalagi sampai kamu anggap dia berbeda. Bukan berarti keluar dari kebiasaan umum lantas sesuatu itu berbeda, Mat. Kenapa tak kamu anggap dia itu orang yang kreatif saja ? Itu baru gambar, gimana kamu mau menanggapi teks suci ?”
Markomat yang dari tadi makan bakwan manggut-manggut tanda percaya. Otaknya bekerja dua kali dalam satu waktu: mengunyah bakwan dan mencerna perkataan Kasub. Sama-sama keras.
“Terus gimana dengan orang-orang yang mengaku datang dari masa depan itu, Sub ? Mereka terang-terangan ngaku datang dari tahun 2043, 2038, 2075, intinya dari masa depan. Kurang jelas apa lagi, Sub. Masih tak mau percaya sama penjelajah waktu itu ?”
“Mat, kalaupun ada mau kamu apakan mesin itu ? Kok kamu ngotot betul.”
“Nah, kalau mesin itu bener-bener ada, Sub, banyak banget zaman yang pengen aku singgahi. Kamu tau kan, hari ini maulid Nabi Muhammad SAW. Semalam, sengaja aku baca-baca buku sirah, Sub. Tapi kalo cuma baca ceritanya aja, kurang seru, Sub. Kalo mesin itu nyata, bisa kamu bayangkan aku ada di hadapan Aminah yang sedang melahirkan makhluk paling elok sejagad ini. Aku akan menyaksikan langsung prosesinya. Betapa bahagianya aku kalau bisa menyaksikan alam menyambut riang gembira prosesi itu, Sub. Malaikat bertasbih, cahaya terang dimana-mana, hingga bisa melihat paras elok bidadari surga. Dan kau tahu, Sub. Dari satu buku yang kubaca semalam, ternyata kakeknya sedang bermunajat di sekitar Ka’bah. Sayang sekali. Tak apalah aku yang akan menggantikannya menemani ibunda Nabi.”
“Betapa mulia niatmu, Mat. Tapi apa tak terlalu tinggi khayalanmu itu. Cukup kau doakan saja, pasti Kanjeng Nabi sudah bahagia.”
“Eh! Bukan cuma itu, Sub. Ini ada kaitannya juga dengan kemaslahatan kita sekarang. Umat Islam sekarang mudah sekali dikotak-kotaki, Sub. Kyai satu berkata begini, dianggap salah. Kyai satu lagi ngomong gini, dibilang tak berilmu. Sesama mereka itu berantem, Sub. Makanya kalau ada mesin penjelajah waktu, aku akan sowan ke Kanjeng Nabi. Kalau bisa aku bawa sekalian Kanjeng Nabi ke masa kita sekarang ini!”
“Kenapa kamu bisa berpikiran seperti itu, Mat ?”
“Kan sudah aku bilang tadi. Ini demi kemaslahatan kita. Demi perdamaian yang kita impikan. Demi kenyamanan yang kita dambakan.”
“Cara berpikirmu itu terlalu pragmatis, Mat. Jangan jadi orang yang mau enaknya saja lah. Ada masalah sedikit langsung lari ke Kanjeng Nabi. Lah kalau begitu modelnya, enak dong hidup ini. Ndak perlu repot-repot berusaha mendamaikan, ndak perlu repot-repot buat ini itu, forum ini forum itu, kegiatan ini itu. Kalau mesin waktu itu benar-benar ada, aku juga ndak yakin segala permasalahan akan langsung selesai. Justru para pencuri akan selalu dapat kesempatan untuk kembali ke satu hari sebelumnya sambil membawa uang curian.”
“Loh santai. Kalo Kanjeng Nabi sudah ada di tengah kita, siapa yang akan berani berbuat buruk ?”
“Itu dia permasalahannya, Mat. Kanjeng Nabi, siapa peduli ! Orang akan termakan oleh kepentingannya sendiri !” Kasub diam sejenak. “Sekarang apa yang sudah kamu lakukan untuk mengatasi kekacauan yang kamu bilang tadi itu ?”
Markomat menggeleng.
“Sekarang pikirkan apa yang akan kamu kerjakan. Lupakan soal mesin penjelajah waktu, mengunjungi Aminah, atau membawa Kanjeng Nabi. Lupakan. Kekacauan itu ada di depan matamu dan khayalanmu selamanya tak akan membantumu menyelesaikan kekacauan.”
Markomat yang sedari tadi menatap mata Kasub, seketika bangkit dari duduknya. Matanya yakin menatap ke depan. Tinjunya mengepal di udara. Keringat mengalir membasahi kaos cokelatnya.
“Terimakasih, Sub. Mulai sekarang, atas nama Markomat, jadilah saksi ! Saya akan berusaha menyelesaikan kekacauan yang ada. Saya berjanji tidak akan menyerah. Saya akan berusaha sekuat tenaga. Mulai sekarang !” matanya menyala-nyala.
“Memangnya apa yang akan kamu lakukan, Mat ?”
“Membuat mesin waktu !!”

Facebook Comments





Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *