Menyimak Sejarah PBSB Hingga Sejarah CSSMoRA

Penggagas dan pendiri Program Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB) adalah para pejabat pada Kementerian Agama Republik Indonesia, pada tahun 2005 melalui Direktorat Pendidikan Keagamaan dan Pondok Pesantren yakni :

1. Menteri Agama RI waktu itu KH. Maftuh Basyuni.

2. Prof. H. Ahmad Qodri Abdillah Azizy, Ph.D saat itu sebagai Direktur Jenderal Kelembagaan Agama Islam Departemen Agama RI sekarang Dirjen Pendidikan Islam Kementerian Agama RI.

3. Drs. H. Amin Haedari, M.Pd sebagai Direktur Pendidikan Keagamaan dan Pondok Pesantren (Pekapontren) di bawah Ditjen Kelembagaan Agama Islam. Sekarang bernama Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren di bawah Ditjen Pendidikan Islam.

4. Drs. H. Rohadi Abdul Fatah, M.Ag Kasubdit Kerjasama kelembagaan dan Pengembangan Potensi Pondok Pesantren, Ditpekapontren.

5. Drs. H. Imam Syafei, M.Pd waktu itu sebagai Kepala Seksi Kurikulum pada Ditpekapontren. Tidak lama dari itu pak Rohadi digantikan oleh Drs, H. Khaeroni, M.Si sekaligus nama Subdit yang menangani PBSB berubah menjadi Subdit Pemberdayaan Santri dan Layanan kepada Masyarakat.

 

Secara berturut-turut Direktur yang menangani PBSB dengan perubahan nama Direktorat adalah:

1. Drs. H. Amin Haedari, M.Pd sebagai Direktur Pendidikan Keagamaan dan Pondok Pesantren (Pekapontren)

2. Drs. Khoirul Fuad Yusuf, M.Si sebagai Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren

3. Drs. H. Ace saefuddin, M.A sebagai Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren

4. Dr. H. Mohsen, M.A sebagai Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kasubdit yang menangani PBSB dengan perubahan nama Subdit

5. Drs. H. Rohadi Abdul Fatah, M.Ag Kasubdit Kerjasama kelembagaan dan Pengembangan Potensi Pondok Pesantren

6. Drs, H. Khaeroni, M.Si Kasubdit Pemberdayaan Santri dan Layanan kepada Masyarakat

7. Drs. H. Imam Safei, M.Pd, Kasubdit Kasubdit Pendidikan Pondok Pesantren

8. Dr. Ainur Rofiq, M.Ag, Kasubdit Pendidikan Pondok Pesantren

 

Program PBSB diinisiasi pada tahun 2005, bertujuan untuk :

Memberikan kesempatan kepada para santri untuk mendapatkan pendidikan yang bermutu dan berkualitas di perguruan tinggi ternama di Indonesia.

Mengejar ketertinggalan komunitas pondok pesantren utamanya para santri pada sains dan teknologi yang sangat dibutuhkan oleh pesantren dan bangsa ini.

Memberikan kesempatan perluasan akses kepada santri terutama dari kelompok yang kurang mampu.

 

Sejarah CSSMoRA

Bagi santri dari seluruh Indonesia yang lolos seleksi menjadi mahasiswa PBSB, secara otomatis menjadi anggota CSSMoRA. Sampai sejarah ini ditulis, sekitar 3.800 santri lolos menjadi mahasiswa PBSB yang dikelola oleh Kementerian Agama RI. Santri-santri tersebut diterima diberbagai jurusan atau program studi, mulai dari bidang keagamaan, pendidikan, kedokteran, kesehatan, pertanian, pertambangan, perikanan, peternakan, teknik, informatika, hukum, sains, psikologi, humaniora, ekonomi, bisnis, dan lain-lain.

 

Pada temu nasional mahasiswa PBSB di Lembang, Bandung, Jawa Barat dibentuklah organisasi yang mewadahi seluruh mahasiswa PBSB nasional, yaitu dengan nama CSS (Community of Santri Scholars) pada tanggal 12 Desember 2007, yang mana diketuai pertama kali oleh  Angga Sugih Pradina dari IAIN Sunan Ampel Surabaya (sekarang sudah menjadi UIN). CSS pada saat berkedudukan di tingkat Nasional dan Regional.

 

Kemudian pada Musyawarah Nasional I CSS yang terlaksana pada 12-14 Juli 2008 di Hotel Galuh Tirtonirmolo Prambanan, Klaten, Jawa Tengah, atas beberapa pertimbangan, di antaranya permintaan dari Kementerian Agama Republik Indonesia untuk mencantumkan Kementerian Agama pada nama organisasi ini dalam satu bahasa. Sehingga nama yang sebelumnya CSS, lalu tepat pada 13 Juli 2008 di acara tersebut diubah menjadi CSSMoRA.

 

Dalam rangka mengefektifkan kinerja dan jalur koordinasi organisasi, pada Munas VI pada 20-22 April 2015 di Malang, struktur organisasi yang dulunya terdiri dari Nasional, Regional, dan Perguruan Tinggi, diubah hanya terdiri dari Nasional dan Perguruan Tinggi. Oleh sebab itu kepengurusan dalam tingkat regional secara resmi ditiadakan.

 

Sebelum pertemuan nasional mahasiswa PBSB pada 12 Desember 2007, pada rentang waktu 2005-2007 sudah muncul organisasi mahasiswa PBSB yang sudah berdiri di setiap kampus yang terdapat PBSB, misalnya: Avicena, Imadega, Hadits, Kassande Unair, dan lain-lain. Kemudian secara resmi diganti namanya menjadi CSSMoRA dan diikuti nama perguruan tinggi yang bersangkutan.

 

Sejak 2007 hingga tahun 2016, telah ada 19 Perguruan Tinggi yang terdapat organisasi CSSMoRA.

CSSMoRA IPB

CSSMoRA UIN Syarif Hidayatullah

CSSMoRA UIN Sunan Ampel

CSSMoRA ITB

CSSMoRA UGM

CSSMoRA ITS

CSSMoRA UPI

CSSMoRA UIN Walisongo

CSSMoRA UIN Maulana Malik Ibrahim

CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga

CSSMoRA Universitas Airlangga

CSSMoRA Universitas Mataram

CSSMoRA Universitas Indonesia

CSSMoRA UIN Sunan Gunung Djati

CSSMoRA Universitas Surya

CSSMoRA Universitas Islam Malang

CSSMoRA STAINU Jakarta

CSSMoRA UIN Alauddin

CSSMoRA Cendrawasih

 

Mengenai Dasar berorganisasi CSSMoRA adalah Pancasila dan Islam-Kepesantrenan. Adapun sifatnya yakni kekeluargaan dan bebas dari politik praktis. CSSMoRA juga mempunyai visi “Terciptanya anggota CSSMoRA yang berorientasi pada keilmuan, pengembangan dan pemberdayaan pesantren serta pengabdian masyarakat.” Sedangkan misinya adalah “Mempererat silaturrahmi antaranggota, mengembangkan bakat dan minat dari anggota, mengamalkan Tri Dharma Perguruan Tinggi serta mengembangkan jejaring organisasi.”

 

Pada awalnya CSSMoRA berfungsi sebagai kepanjangantangan dari Kementerian Agama yang berfungsi mengakomodir serta mengembangkan kemampuan berorganisasi mahasiswa PBSB. Namun, kini CSSMoRA telah menjadi organisasi yang bersifat independen, tetapi secara historis-kultural masih ada hubungan dengan Kementerian Agama.

 

Adapun CSSMoRA pada tingkat Nasional dalam kurun waktu 2007-2016 sudah mengalami tujuh kali pergantian ketua :

1. Angga Sugih Pradina (IAIN Sunan Ampel) periode 2007-2009.

2. Gunaryo (IPB) periode 2009-2011.

3. Arif Kurniawan (UIN Syarif Hidayatullah) periode 2010-2012.

4. Imam Sahal Ramadhan (UIN Sunan Kalijaga)  periode 2013-2014.

5. Ahmad Maulana (Universitas Airlangga) periode 2014-2015

6. Ivanullah Anggriawan W (Universitas UIN Syarif Hidayatullah) periode 2015-2016.

7. M. Zidni Nafi’ (UIN Sunan Gunung Djati Bandung) periode 2016-2017.

 

Periode kepengurusan CSSMoRA Nasional awalnya 2 tahun, namun sekarang diubah menjadi 1 tahun. Saat ini ada empat Departemen dan Satu Badan Semi Otonom yang dimiliki Pengurus Nasional CSSMoRA. Keempat Departemen tersebut adalah (1) Departemen PSDM (Pengembangan Sumber Daya Mahasantri), (2) Departemen P3M (Pengembangan Pesantren dan Pengabdian Masyarakat), (3) Departemen Kominfo (Komunikasi dan Informasi), dan (4) Departemen PSDE (Pengembangan Sumber Daya Eknomi). Sedangkan Badan Semi Otonom (BSO) CSSMoRA Nasional bernama SANTRI yang bergerak di bidang pers dan jurnalistik yang sampai saat ini mempunyai media majalah dan website.

 

Facebook Comments





Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *