Menpora Gelar Liga Santri Nusantara

qKifr5QVbKqMOAK41dOTg8cUp3iLuwgswdIJAPz2c_EA6V2ChXGTY3xEYTI565mpNg0tHmn9DHfTZtlyGPnMedfD_Jp-NLswxGvUCSqbXZ379tNB0CQSM05bSJl9Zw22aFCTJt4=w417-h353-nc

JAKARTA – Setelah menyelenggarakan Piala Kemerdekaan, Menpora Imam Nahrawi siap melaksanakan Liga Santri Nusantara (LSN). LSN sudah menggelar workshop pada 24-26 Agustus lalu untuk mempersiapkan kompetisi kasta tertinggi santri-santri Indonesia tersebut.

Baru kali ini pembinaan sepak bola melibatkan pondok pesantren. Biasanya pembinaan selalu terkait dengan sekolah sepak bola (SSB) atau klub sepak bola.

Kalaupun ada santri yang terlibat, itu karena mereka terafiliasi ke SSB atau klub. Bukan karena pondok pesantrennya mereka jadi ikut sepak bola.

Namun, Kementerian Pemuda dan Olahraga menganggap serius LSN. Bahkan, levelnya sudah dianggap liga pelajar sepak bola usia muda.

Jika di liga pelajar ada workshop, di LSN ada bimtek (bimbingan teknik). Fungsinya sama dengan manager meeting yakni untuk mensosialisasikan regulasi dandrawing alias undian pelaksanaan turnamen.

Proses itu sudah dijalani oleh LSN pada 24-26 Agustus. Workshop dihadiri oleh perwakilan dari seluruh provinsi di Indonesia. Namun, untuk proses seleksi nasional hanya digelar di 10 provinsi.

Meski baru, LSN berani menerapkan aturan bahwa kompetisi hanya diperuntukkan santri pondok pesantren berusia di bawah 17 tahun atau U-17. Tujuannya, ingin menyaingi proses kaderisasi sepak bola yang dilakukan oleh klub-klub di daerah.

Sesmenpora Alfitra Salam mengatakan, LSN menjadi ajang mencari bibit atlet muda sepak bola nasional. Menurut dia, semakin banyak ajang digelar, semakin banyak bibit pemain handal yang dihasilkan.

Tak hanya untuk mengejar prestasi sepak bola, LSN juga ditujukan untuk menggairahkan olahraga di daerah. Dengan jaringan yang ada, diyakini tak akan sulit membangun tim untuk mengikuti kompetisi.

“Ke depan kami berharap, santri tidak hanya identik dengan kitab, tapi juga harus berprestasi di bidang olahraga. Pesantren harus mengajarkan kejujuran, kesederhanaan dan keikhlasan yang harus dicontoh atlet lain,” kata Alfit sebagaimana dilansir Rappler.com.

LSN mengejutkan banyak pihak. Kemunculannya sangat mendadak di saat gairah sepak bola nasional sedang redup. Apalagi, saat ini banyak pihak mempertanyakan mengapa minim kompetisi di dalam negeri.

Tim Transisi sepak bola nasional saat ini sedang memprogram kompetisi usia muda dan usia dini. Tiba-tiba, muncul LSN yang mengklaim sebagai kompetisi U-17.

Salah seorang sumber di lingkungan Kemenpora yang tak mau namanya disebut mengatakan, wilayah kerja Kemenpora saat ini bertambah. Jika dulu santri kebanyakan menjadi wilayah Departemen Pendidikan atau Kementerian Agama, kini menjadi wilayah Kemenpora juga.

“Dari dulu saya di sini, baru kali ini tahunya ada Liga Santri. Ini unik. Sekarang santri nggak cuma belajar agama, tapi juga belajar sepak bola. Mungkin untuk mencetak pendakwah di lapangan bola,” ujarnya.

Setiap bidang ada tugas dan fungsinya masing-masing. Dia menilai santri tak perlu mengurusi sepak bola. “Tugas santri jadi terlalu banyak nanti tidak fokus,” katanya. (Red: Zidni)

Facebook Comments





Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *