Menakar Porsi Cinta Kepada Baginda

Oleh Moh. Mizan Asrori*

“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya.” (QS. An-Nahl: 18). Ayat tersebut mengandung pengertian betapa manusia sebagai insan yang lemah tidak akan pernah bisa menghitung nikmat yang dianugerahkan Allah kepadanya. Nikmat ini terbagi menjadi dua bagian, nikmat kecil dan nikmat besar. Kedua macam nikmat ini seringkali kita lupa mensyukurinya. Lebih-lebih nikmat kecil yang kita rasakan selama ini.

Tentang nikmat besar, tidak banyak yang tahu bahwa salah satu nikmat besar yang Allah berikan adalah terutusnya Nabi Muhammad SAW. dan dipilihnya kita menjadi umatnya. Sebagai pembawa obor perdamaian dan cahaya petunjuk, Rasulullah layak diagungkan dan dihormati kedatangannya. Meski lahir dan diutus terakhir, namun nama beliau sudah ada semenjak alam ini belum diciptakan.

Kelahiran sang Nabi pada hari Senin 12 Rabiul Awal tahun Gajah bertepatan dengan 20 April 571 M menjadi penanda berakhirnya masa jahiliyah. Beliau datang membawa sebuah ajaran yang pengamalannya sudah banyak dilakukan umat sebelumnya, seperti shalat dan ibadah lainnya. Agama yang dibawanya sangatlah mulia dan memuliakan manusia, baik laki-laki maupun perempuan. Tidak hanya di situ, Islam yang di kemudian hari menjadi agama yang tersebar ke seantero dunia merupakan agama rahmatan lil alamin (rahmat bagi semesta alam).

Kepribadian Nabi Muhammad yang santun dan penuh kebaikan membuat para tokoh Quraisy mengakui dan mengikuti jejaknya dengan cara memeluk Islam. Meski demikian, ada juga dari mereka yang masih menganut agama nenek moyangnya tetapi diam-diam mengakui kebenaran Islam. Hal ini dikarenakan kesombongannya, sebagaimana kita pahami sombong ada dua macam, tidak menerima kebenaran dan merasa lebih dari orang lain.

Kelahiran sang nabi akhir zaman tersebut juga memadamkan kekuasaan Persia dan Romawi, yang menjadi kekuatan adidaya sebelum Islam datang. Api yang sudah beribu-ribu tahun disembah dan tidak pernah padam seketika mati tatkala Nabi lahir ke dunia. Kejadian ajaib dan aneh satu persatu terjadi mengiringi kelahiran Nabi sekaligus rasul pamungkas. Kuasa Allah ditunjukkan demi menyambut kedatangan sang mahbub (yang dicintai).

Tidak hanya paman dan keluarga dekat yang bergembira dengan lahirnya nabi, melainkan semua alam bertahmid dan bersyukur. Euforia kegembiraan lahirnya Nabi tetap terjaga sampai zaman sekarang, beragam kegiatan dilakukan dalam rangka memperingati lahirnya nabi dan rasul terakhir. Peringatan ini bertujuan mengingatkan manusia betapa seorang yang agung telah diutus oleh Allah di tengah-tengah kaum yang melakukan kemusyrikan dan kejahiliyahan dan membawa perubahan pada wajah peradaban dunia.

Tabuhan terbang dan lantunan shalawat mengiringi setiap acara peringatan kelahiran sang Nabi agung, terutama di pelosok desa. Setiap rumah merasa wajib untuk mengundang kerabat, tetangga, dan handai tolan untuk bersama-sama menggemakan shalawat dan menjamu mereka dengan jamuan terbaik. Tidak heran jika selama bulan Rabiul Awal terasa seperti hari raya bagi umat muslim. Ada kesenangan dan ketenangan tersendiri saat bisa memperingati kelahiran insan kamil pembawa agama harmonis bukan anarkis.

Meski demikian hingar-bingar dan ramainya peringatan kelahiran Nabi hendaknya tidak melupakan kita pada esensi yang terpenting dalam peringatan tersebut, yakni pelestarian ajaran dan tuntunan yang diajarkan Nabi. Sangat disayangkan jika peringatan ini hanya identik dengan kesenangan semu yang tidak berkelanjutan. Memperingati silahkan saja namun jangan lupa bahwa beliau (Rasulullah) akan lebih senang jika ajarannya diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Selama 63 tahun beliau hidup selama itu pula jiwa dan raga beliau korbankan demi tersebarnya agama Islam ke seluruh pelosok jazirah Arab. Uswatun hasanah (contoh baik) yang beliau tunjukkan sudah cukup menjadi pedoman manusia hidup di dunia dan menjaga stabilitas keamanan. Uniknya, tanggal wafat beliau sama dengan kelahirannya yakni 12 Rabiul Awal tahun 11 H bertepatan dengan 8 Juni 632 M.

Ini mengisyaratkan kepada kita sebagai umat yang senantiasa memuliakan dan memperingati kelahirannya supaya mengingat juga pesan yang ditinggalkan. Pesan yang akan selalu kita pegang teguh sebagai sebuah pegangan dan pedoman. Salah satu hal penting yang beliau tinggalkan adalah “Wahai saudara-saudaraku, dengarkanlah baik-baik, sembahlah Allah, shalat lima waktu dalam sehari, laksanakan puasa selama bulan Ramadhan, dan tunaikanlah zakat, laksanakan ibadah haji bila mampu. Ketahuilah bahwa sesama muslim adalah bersaudara, kamu semua adalah sederajat.”

Pesan ini merupakan khutbah terakhir beliau dan membuat kita terenyuh dengan kondisi persaudaraan sesama muslim yang seringkali berperang dan saling membunuh hanya demi kekuasaan semata. Rasa memiliki dan menyayangi semakin terkikis, utamanya di negara yang dekat dengan tempat lahir dan wafatnya beliau (Timur Tengah). Kesenjangan antar kelompok semakin tampak dan menjadi bumerang untuk membina persaudaraan. Ini semua menandakan bahwa peringatan kelahiran Nabi Muhammad acapkali tidak dibarengi dengan pegamalan pesan Nabi Muhammad SAW. Ke depan semoga kita bisa mencontoh cara hidup dan bergaul beliau, baik dengan penganut agama lain lebih-lebih dengan sesama muslim. Mari kembali introspeksi diri sejauh mana cinta kita pada sang baginda.

Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Zakat Bilyatimi Surabaya.

*Anggota CSSMoRA UIN Sunan Ampel Surabaya angkatan 2014 dan Alumnus PP. Annuqayah Sumenep.

 

Facebook Comments





Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *