Menag: Kyai Dahlan dan Kyai Hasyim Guru Nasionalisme

Jakarta-Indonesia patut bersyukur memiliki dua tokoh besar seperti KH. Ahmad Dahlan dan KH Hasyim Asy’ari. Kedua tokoh ini adalah pendiri organisasi Islam terbesar di Indonesia, yaitu Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama, yang berkontribusi besar dalam menjaga dan memelihara implementasi nilai Islam sehingga menjadi Islam yang khas Indonesia. Kedua tokoh ini juga mempunyai semangat nasionalisme yang sama.

“Yang harus dipelajari dari Kyai Ahmad Dahlan dan Kyai Hasyim Asyari adalah semangat nasionalismenya. Keduanya sangat kental jiwa nasionalismenya,” demikian penegasan Menag Lukman Hakim Saifuddin dalam kesempatan rekaman sebuah program televisi nasional yang bertajuk “Belajar dari KH Ahmad Dahlan dan KH Hasyim Asy’ari” di Kampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Jumat (26/06).

Hadir sebagai narasumber, Siti Hadiroh (cicit KH Ahmad Dahlan), Gus Solah (cucu KH Hasyim Asy’ari), Ketum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Said Aqil Siradj, Sekjen Pengurus Pusat Muhammadiyah Abdul Mu’thi, Sejarahwan Anhar Gonggong, Budayawan Gus Pri, Ketum PP Muhammadiyah Dahnil Anzar Simanjuntak, Ketum GP Anshor Nusron Wahid, Sutradara Sang Pencerah Hanung Bramantyo, Sutradara Sang Kiai Rako Prijanto, dan Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Dede Rosyada. Ikut hadir mendampingi Menag, Kepala Pusat Informasi dan Humas Rudi Subiyantoro dan Kabag TU Pimpinan (Sesmen) Khoirul Huda).

Menurut Menag, kedua tokoh besar ini adalah tunggal guru dan tunggal ilmu. Ketika  mencari ilmu di dalam negeri, keduanya berguru kepada Kyai Saleh Darat. Sedang ketika nyantri di Hijaz, keduanya juga berguru pada orang-orang yang sama, seperti Syekh Nawawi Al Bantawi, Syekh Mahfudz Tremas, dan lainnya.

Ketika pulang ke Tanah Air, lanjut Menag, keduanya juga sama-sama mencoba untuk  membumikan nilai-nilai Islam yang dipahaminya, namun dengan caranya masing-masing sesuai dengan konteks yang melingkupinya.

“Kyai Hasyim lebih berkecimpung pada umat Islam pedalaman, sementara Kyai Ahmad Dahlan berada di kalangan pesisir kota sehingga hal itu mempengaruhi cara mereka mengimplementasikan nilai-nilai Islam.

“Kyai Ahmad Dahlan dengan aksi. Saya memaknainya man of action. Beliau tidak berwacana karenanya beliau tidak menulis satu pun buku. Al-Quran dan Hadis sudah cukup, yang diperkukan adakah aksi,” kata Menag lagi.

“Mbah Hasyim, karena berada pada lingkungam yang sangat menjunjung tradisi, sehingga concern untuk menjaga. Beliau adalah penjaga tradisi dan connecting ulama di Tanah Air,” tambahnya.

Di luar perbedaan pendekatan metode dan pendekatan yang dilakukan, Menag menegaskan bhawa keduanya sama-sama ingin bagaimana nasionalisme Indonesia tidak kering, tapi diisi dengan ruh nilai agama.

“Tanpa mengecilkan peran ormas lain, Bangsa Indonesia dengan umat Islam terbesar di dunia, dengan corak keberislaman yang khas, harus bersyukur dengan dua ormas besar ini. Muhammadiyah dan NU lah yang mampu menjaga dan memlihara bagaimana implementasi nilai Islam menjadi Islam yang khas Indonesia, seperti Islam nusantara dan lainnya,” tandasnya.  (kemenag.go.id)

Facebook Comments





Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *