Kemurungan Seorang Ghost-Writer

Oleh: Madno Wanakuncoro

Waktu berjalan seperti anjing pincang. Begitu lambat dan menyakitkan. Tidak ada kegiatan yang bisa menggugahku. Tak ada gairah. Sepah. Tanpa rasa. Sepi. Semua serba lemas. Terasa kosong dan tak layak dinikmati.
Apalagi sejam lalu, di kosan kumal biadab yang cuma berisi buku-buku dan kanvas dengan gambar lukisan kelas tengu ini, aku habis membaca kisah cinta yang rongsokan. Muak aku. Lalu kusobek lembarannya, dan seperti biasa, kujadikan asbak mendadak. Bahkan sesekali kupakai sebagai alas untuk menaruh gorengan yang telanjur dingin. Ah! Minggu ini, hari-hari sungguh berjalan seperti omong kosong.
Memang kesalahanku sendiri karena nekat tidak melamar kerja-menetap di suatu instansi, pabrik atau lembaga tertentu. Namun tetap saja, biarpun itu kesalahanku, aku sangat masih membenci moncong orang lain yang akan semena-mena menghakimi dan meludahkan kata-kata, “Tuh, kan. Sudah kubilang,” dan tambahan ba-bi-bu lainnya saat aku menyesali keputusanku sendiri.
Jika sudah mendengar kalimat keparat yang demikian, ingin sekali kusaut mulutnya yang sudah dirobek Tuhan itu, lantas kurobek lagi sampai ke pipi. Untungnya aku tak sebajingan dan tak sekejam itu.
Lagipula, semua keputusanku yang mungkin pernah sia-sia atau akan pernah sia-sia, toh, hanya aku sendiri yang menanggung konsekuensi dan resikonya. Paling banter, mungkin sedikit merembet ke orang tua. Jarang sekali yang mencipratkan efek-samping ke teman. Kecuali jatah bagi-bagi rokok dan tentu makanan lekas berkurang. Pol-polan begitu.
“Kau kenapa tidak daftar CPNS saja kemarin?” Satu suara yang sudah kuduga akan berkicau, mulai mengusik. Menajiskan telingaku saja.
Meski aku punya banyak bahan untuk nyerocos mendebatnya, namun pertanyaan seperti itu kubiarkan saja mengapung di langit-langit kamar. Menyatu bersama kepulan asap yang dipercaya dapat membunuhmu, tapi tidak membunuhku. Lalu sesekali aku pura-pura keluar, membuang ludah, padahal sekadar ingin menatap langit luar sana yang menyilaukan.
Sudah lama betul agaknya aku menyekap diri di kamar. Kedua tangan kurentangkan, menguap, mulet, dan membenarkan tulang sekujur badan. Cakrawala nun di sana kulihat hanyalah warna yang bening tanpa batas. Saputan awan berserakan menjauh dari pandanganku bagai kapas yang ditiup angin. Apakah sebegitu bencinya kau pada orang bajingan ini, awan, sehingga baru saja aku keluar kamar, kau langsung hengkang dari mata. Gerutuku. Di batin.
“Kemarin Aspri Warek-Tiga menawarkan proyek buku tuh. Apa kau mau? Siapa tahu lebih menjanjikan honornya dari yang mampu diberikan juraganmu dengan mencicil.” Suara yang sama dengan sebelumnya menyelusup keluar dari lubuk kosan, membuatku berpaling dari langit pra-siang yang tengah kusapa.
“Percuma. Omongan orang itu tak bisa dipegang kecuali soal kopi dan keuntungan massa untuknya.”
“Jadi aneh. Kapan terakhir kali kau tidak sinis ke orang lain, hah? Semua orang tampaknya kau sinisi, bahkan dirimu sendiri.”
Kemudian percakapan itu buntu. Berakhir tidak dengan akhir. Sebagaimana awalnya, tidak dimulai dengan awal. Lantas, di saat seperti ini, aku hanya kembali masuk. Abai. Tak peduli. Dan selanjutnya pergi menjerang air demi secangkir kopi kecut sisa bulan lalu untuk menemani duduk khusyuk di tepi kardus, menatap layar. Meneruskan proses bunuh diri: menuliskan karya atas-nama orang lain.
Sebelum kumulai ritual ‘bunuh diri’—sekaligus membunuh diri si pemesan naskah—kusetel musik khas yang sesuai dengan suasana hati Ibuku. Bukan suasana hatiku.
Iya, rutin sebelum melakukan prosesi itu, aku menelpon Ibu hanya untuk menanyakan kabarnya, bagaimana kesehariannya, apa yang ia rasakan dan seperti apa suasana batinnya. Hal tersebut sekadar demi mencari kecocokan dan lagu yang pas.
Maka setelah tercerahkan dengan suara perempuan yang melahirkanku, ke dalam playlist kumasukkan musik instrumental River Flows in You dari Yiruma di urutan pertama. Instrumen hasil piano. Sedang urutan kedua kuselipkan masih karya orang yang sama, berjudul Kiss The Rain. Cuma dalam versi covered by April Yang dengan alat musik tradisional bernama Kalimba.
Asal kau tahu, dalam menuliskan karya yang akan terbit atas-nama orang lain, kau harus dramatis. Dan hal begitu memerlukan dukungan magis dari sebuah alunan musik. Kau perlu cergas dalam memanipulasi hatimu sendiri, memungut kupu-kupu ide (saat siang begini), atau menangkap lembut kunang-kunang inspirasi (di kala malam), lalu meramunya menjadi sesuatu yang indah, jelita, berbobot, eye-catchy, sekaligus beracun!
Kau musti pandai menarikan kata demi kata di tubir layar, merasukinya dalam pusaran ilmu, membatasinya dengan pagar kualitas dan kapabilitas nama orang yang memesan darimu. Tentu harus sesuai dengan kadar intelektualnya dan ini tidak boleh main-main—walau masih saja aku akan selalu main-main dan semakin tidak peduli.
“Jangan terlalu akademik-ilmiah, ya? Tapi tetap kudu ber-nas dan gurih.” Saran dari Si Juragan yang menghubungkan Sang Pemesan kepada eksekutor sepertiku.
Terkadang, orang-orang seperti mereka berdua, hanya ber-bisa di lidah. Tapi tangan tak berkutik di depan layar, apalagi kertas. Mata mereka pun tak terlatih untuk menyusuri huruf demi huruf di kedalaman buku kusam, terlebih jika disuruh merangkai huruf-huruf sendiri.
Tapi sama sepertiku, mereka pandai membual. Membual tentang banyak hal; cita-cita, impian palsu, janji gelap di ujung gerimis, sampai pada kontribusi bikinan yang direkayasa.
Perjalananku menjadi penulis hantu, tidaklah di luar dari ketersesatan. Aku tersesat di tepi suara perut—yang merengek di ladang rantau. Toh, selain membuat lukisan yang sepi, hanya ini yang kubisa. Setidaknya untuk sementara ini.
Dan setelah tiga hari semenjak mendengar saran buta itu, mataku tetiba kerasa pedas. Kakiku hangat tapi basah. Udara kosan apek. Lusuh. Senyap dan pengap. Aku mengucek mata, meluruskan tangan yang kram, menyisihkan sesuatu yang melapisi lengket kakiku. Ternyata kopi tiga hari silam tumpah di kaki. Aku baru terbangun!
Kulihat jam di ponsel. Tak bisa. Baterai kandas. Lalu kuamati jumlah halaman di depan layar yang cahayanya menusuk ini, sudah lima puluhan lebih. Hari ini deadline-nya. Maka setelah melap kaki dan mencuci muka, kutatap sekali lagi layar kerjaku. Aku klik Ctrl plus A, semua huruf terblok biru yang muram. Satu lagi tombol pamungkas, kupencet delete dan langsung Ctrl+S. Habis sudah. Tamat. End. Aku tak peduli dan mau terbaring lagi dirundung mimpi. Mampus kau dikoyak-koyak sepi! Sia-sia.

Jl. Setiabudhi, 2018

1) Kalimat dari penggalan sajak Chairil Anwar yang berjudul “Sia-Sia” (Februari 1943)

Facebook Comments


« (Previous News)



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *