KEBERAKSARAAN DALAM AL-QUR’AN

Keberaksaraan (Baca: Literasi) yang selama ini dianggap sebagai solusi untuk mengentaskan kebodohan serta memajukan peradaban suatu kaum, masih menjadi perbincangan yang menarik untuk dibahas, khusunya di zaman milenial ini. Literasi dalam bahasa Indonesia berarti “keberaksaraan”, sedangkan menurut Jean E. Spencer dalam bukunya yang berjudul literacy berarti kemampuan untuk membaca dan menulis yang merupakan pintu gerbang bagi seseorang untuk mencapai predikat sebagai (manusia; komunitas; bangsa) yang terpelajar. Selanjutnya, hal ini akan berimplikasi munculnya peradaban dan ilmu pengetahuan.

Dalam memperbincangkan literasi, tidak serta-merta lepas dari al-Qur’an yang bagi umat Islam adalah petunjuk dan sumber pengetahuan. Menurut catatan sejarah, al-Qur’an telah diturunkan sejak abad ke-7 dan sejak saat itu al-Qur’an telah menjadi dogma yang mempengaruhi segala tindak-tanduk manusia, baik yang menyangkut hablum min an-nas dan hablum min Allah. Al-Qur’an telah memberikan banyak  pengetahuan dan pengajaran kepada manusia, tak terkecuali masalah literasi. Bahkan, ayat yang dapat dirujukkan kedalam tema ini termasuk ayat yang pertama kali turun kepada Nabi Muhammad saw. yakni dalam (QS. Al-Alaq [96]: 1-5)

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (1) خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ (2) اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ (3) الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (4) عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ (5)

“(1).Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan. (2).Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. (3).Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Mulia. (4).Yang mengajar manusia dengan pena. (5).Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.

Ayat tersebut merupakan wahyu yang pertama kali turun kepada Nabi Muhammad saw. Nabi sendiri merupakan Nabi yang Ummi (tidak bisa membaca dan menulis) seperti yang termaktub dalam (QS. Al-A’raf [7]:157). Menururt riwayat dari Siti Aisyah, bahwa wahyu ini diturunkan di gua Hira’ melalui malaikat Jibril, Jibril menyuruh Nabi: “Bacalah!”, kata beliau: “Aku tidak pandai membaca!”. Dipeluknya Nabi, kemudian Jibril menyuruh: “bacalah!”, Nabi menjawab: “Aku tidak pandai membaca”, sesudah ketiga kalinya, kemudian Jibril berkata: “(1).Bacalah dengan nama Tuhan yang telah mencciptakan. (2). Yang telah menjadikan manusia dari segumpal darah. (3).Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Mulia. (4).Yang mengajar manusia dengan pena. (5).Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.” Dari ayat ini, kita juga memperoleh pelajaran bahwa dalam mempelajari sesuatu seseorang tidak boleh mudah menyerah karena Nabi sendiri yang merupakan Nabi termulia pada awalnya kesulitan dalam memahami wahyu Tuhan.

Dilihat dari sisi sejarah, masyarakat Arab saat itu bukanlah masyarakat yang menggemari tradisi literal, mereka lebih condong kepada tradisi oral. Hal ini dapat diketahui melalui peradaban Arab yang saat itu “memuja-muja” syair dan nasab, mereka menghafalkannya dan menyebarkannya di pasar Ukaz yang menjadi pusat berkumpulnya para penyair-penyair Arab saat itu. Turunnya surat al-Alaq sebagai surat yang pertama, disinyalir merupakan pendobrak peradaban kaum Arab saat itu. Karena sejak ayat ini diturunkan, bangsa Arab secara perlahan mencoba membuka diri dan menerima wawasan dari luar Arab, adanya al-Qur’an yang sampai ke-tangan kita dan Hadits yang terkodifikasi dalam buku-buku secara sistematis merupakan bukti konkrit urgensi literasi bagi Islam.

Kembali ke ayat di atas, kata Iqra’ adalah Fi’il Amr yang tidak disebutkan objek perintahnya. Jika merujuk ke kaidah kebahasaan yakni “Apabila suatu  kata kerja yang membutuhkan objek tetapi tidak disebutkan objeknya, maka objek yang dimaksud bersifat umum, mencakup  segala sesuatu yang dapat dijangkau oleh kata tersebut.” Dari kaidah ini maka dapat dilakukan reinterpretasi terkait (QS. 96: 1-5) yakni kata iqra’ digunakan dalam arti membaca, menelaah, menyampaikan, dan sebagainya, karena objeknya bersifat umum, maka objek dari kata tersebut mencakup segala sesuatu yang dapat terjangkau, baik ia merupakan bacaan suci yang bersumber dari Tuhan maupun bukan, baik ia menyangkut ayat-ayat yang tertulis (dalam sebuah buku) maupun yang tidak tertulis (melikupi ayat-ayat kauniyah dan lainnya). Alhasil, kata Iqra’ mencakup perintah untuk menelaah terhadap alam raya, masyarakat dan diri sendiri, serta bacaan tertulis, baik naskah keagamaan maupun tidak.

Selanjutnya penggunaan kata qalam yang bermakna pena, hal ini menunjukkan bahwa al-Qur’an sangat menitik-beratan akan pentingnya budaya menulis bagi kaum Islam. di sisi lain, kata qalama dapat bermakna tulisan. Namun, jika diikutkan wazan Fa’ala dapat bermakna memutus. Hal ini, jika dikorelasikan dengan dimensi sejarah maka sebenarnya (QS. 96:1-5) telah memutus budaya illeterasi (ketidak-pahaman membaca dan menulis) yang sebelumnya terjadi sebelum adanya Islam.

Dari penjelasan tersebut, dapat dijadikan acuan bahwa bangsa yang paham akan literasi akan lebih muda untuk menjadi bangsa yang maju dan berperadaban, bangsa Arab yang sebelumnya tertinggal jauh dengan bangsa eropa kamudian saat masa keemasan (The Golden Ages) yakni pada masa Bani Abbasiyah, tepatnya saat kekuasaan khalifah al-ma’mun menjadi bangsa yang disegani dan berperadaban maju dikarenakan adanya Baitul Hikmah sebagai pusat keilmuan Islam.

Begitu pula saat kepemimpinan khalifah Abu Ja’far Abdullah al-Mansyur, beliau mempekerjakan para penerjemah untuk menerjemahkan buku-buku kedokteran, filsafat dan buku-buku yang lain dari bangsa eropa. Hal ini yang memunculkan para tokoh intelektual Islam seperti Ibn Rusyd, Ibn Sina dan az-Zamakhsyari yang selanjutnya menjadi tokoh intelektual dunia karena kemampuan mereka menciptakan hal-hal baru yang sebelumnya belum ditemukan, bahkan oleh bangsa Eropa sendiri.

Jadi, sebenarnya manusia telah diberikan potensi yang luar biasa untuk bisa membentuk kemajuan peradaban dengan kunci Iqra’ yakni membaca, dan hal ini bersifat fleksibel tergantung konteks yang dihadapi. Selanjutnya, perubahan yang terjadi itu disebabkan pembacaan, dan pembacaan sendiri tidak hanya melikupi teks saja, pembacaan dapat menyentuh kondisi sosial dan budaya. Benar jika saat itu konteks perubahan dengan cara membaca, namun tidak hanya membaca al-Quran saja, dan bisa berarti melebihi dari makna Iqra’ itu sendiri yang dapat berarti membaca lingkungan serta mengimplementasikan objek bacaan dalam interaksi sosial dan realitas yang ada.

Dalam memahami urgensi literasi, dapat pula didasari dengan kebutuhan untuk memajukan negeri dan melawan permasalahan yang terjadi saat ini. Karena membaca adalah proses penyerapan ilmu dalam membentuk intelektual diri. Sedangkan menulis adalah wujud konkrit dalam mengaplikasikan pemikiran yang dapat berwujud apa saja, baik yang bersifat teoritikal maupun tindakan.

 

Oleh: Moh. Nailul Muna

(Arek Kemlagilor Turi Lamongan)

Tentang Penulis:

Penulis berasal dari Lamongan, Jawa Timur. Saat ini sedang menempu studi di Yogyakarata tepatnya di UIN Sunan Kalijaga Jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, dan sekaligus mondok di pondok pesantren LSQ Ar-Rahmah.

Facebook Comments





Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *