Membangkitkan Kembali Semangat Generasi Muda yang Berilmu, Beradab dan Beretika

Narasumber: Dr. Agus Santoso S.Ag M.Pd (Pengelola PBSB UIN Sunan Ampel Surabaya)

Kebangkitan Nasional  tidak dapat dipisahkan dengan pendidikan dan kebagkitan nasional berawal dari para pemudanya. Para pemuda harus mempunyai kreativitas, talenta serta kapasitas diri yang luar biasa, karna kecerdasan saja tidak cukup untuk di jadikan alasan bangkitnya suatu bangsa. Akan tetapi cerdas yang dimaksud adalah kecerdasan untuk memaknai apa yang sebenarnya yang terjadi di masyarakat saat ini.

Dewasa ini para pemuda tengah mengalami krisis moral, terpuruknya moral anak muda telah nyata terlihat hampir di seluruh lapisan masyarakat. Mereka yang terlibat dalam aktivitas-aktivitas yang buruk seperti narkoba, tindak kriminal, free seks dan lain sebagainya. Memang tidak mudah bagi kita untuk merubah sesuatu yang sudah mendarah daging dalam aktivitas para pemuda. Oleh karna itu pada momentum hari Kebangkitan Nasional ini, mari kita bangkitkan semangat para pemuda kita melalui penanaman etika dan adab. Dalam hal ini diperlukan peran dan kontribusi penuh dari para tenaga pendidik, penanaman pendidikan karakter yang mampu menghasilkan generasi muda yang beretika dan beradab. Kita harus bangga mempunyai para pahlawan seperti halnya Raden Ajeng Kartini, Bung Tomo dan masih banyak lagi pahlawan yang di usia mudanya sudah mampu membawa perubahan yang real terkhusus pada kalangan remaja. Semangat para tokoh kebangkitanlah yang kita butuhkan saat ini.

Mengenai cara dan bagaimana menanamkan pendidikan karakter, melalui moment hari kebangkitan nasional ini kita dapat memanfaatkan fungsi media sosial. Media sosial mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam penanamanya, individu yang cerdas adalah individu yang mampu memanfaatkan media sosial menjadi media keilmuan yang bertujuan untuk kepentingan semua orang baik spiritual, kepeduliaan antar sesama, kepekaan sosial, dan lain sebagainya.

Dengan media sosial, diharapkan kebangkitan nasional mempu menjadi tonggak kebangkitan umat agar tidak ada individu yang tertindas. Agar tidak ada kalangan yang menjadikan hari kebangkitan nasional sebagai ajang individu dalam memuaskan hasrat kepentingan semata, meningkatkan perekonomian, permainan politik namun mengenyampingkan masyarakat lain yang terdiri dari beranekaragam lapisan seperi masyarakat petani, masyarakat buruh serta keberanekaragaman ras dan budaya.  Media sosial dalam hal ini berperan aktif, hanya bagaimana informasi yang disampaikan. Kendala berupa aspek negatif media sosialpun tidak bisa jika hanya dipandang sebeleh mata. Kembali kepada peran tenaga pendidik yang merupakan filter akan menjadi apa generasi selanjutnya

Harapan saya kepada seluruh  para pemuda khususnya mahasiswa yang tersebar di seluruh nusantara, jadilah kalian santri dengan kapasitas keilmuan tinggi, jadilah seorang yang a’lim yang mampu membangkitkan kembali semangat para pemuda dengan adab, etika dan ilmu pengetahuan. Adab, etika serta ilmu pengetahuan menjadi jalan yang besar bagi kalian para pemuda Indonesia untuk menyatukan perbedaan di negara kita, perbedaan bukan alasan agar kita saling menjatuhkan. Dengan momen hari kebangkitan nasional ini, mari kita jadikan perbedaan menjadi sarana perdamaian sehingga terciptanya negara yang menjunjung tinggi etika, adab dan pendidikan. (kominfo Nasional)

Facebook Comments





Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *