Kampoeng Hompimpa, Cara Dua Mahasantri Lestarikan Kembali Permainan Tradisonal Indonesia

TANGERANG – Semakin berkembangnya teknologi membuat permainan tradisional Indonesia menjadi kurang diminati oleh anak-anak zaman sekarang. Padahal, permainan tradisional merupakan warisan dan kearifan lokal yang perlu dilestarikan terus-menerus.

Berkurangnya minat anak-anak dalam memainkan aneka dolanan tradisional ini menggugah hati dua Mahasantri dari Universitas Surya, Muhammad Miftah dan Akhmad Muslih. Dua mahasiswa ini mendirikan Kampoeng Hoempimpa, sebuah komunitas yang memiliki visi ingin melestarikan permainan tradisonal dan mengedukasi masyarakat melalui permainan tradisional.

Berawal dari pemenuhan tugas mata kuliah di kampus, gerakan komunitas yang berlokasi di Tangerang ini kini telah memiliki komunitas regional di beberapa kota, seperti Semarang, Yogyakarta, dan Pontianak. Ide awal yang membuat dua Mahasantri PBSB ini (Penerima Beasiswa Santri Berprestasi) berinisiatif mencetuskan Kampoeng Hoempimpa adalah kepeduliannya terhadap permasalahan interaksi anak-anak zaman sekarang yang lebih banyak dihabiskan pada permainan modern yang ada di gadget. Selain itu, anak-anak zaman sekarang cenderung tidak peka dengan keadaan lingkungan di sekitarnya.  

Jika beberapa puluh tahun yang lalu, anak-anak lebih mengenal permainan tradisional seperti egrang, congklak, bakiak, dan kelereng. Berbeda dengan anak sekarang yang lebih mengenal beragam permainan modern karena lebih mudah didapatkan dan diakses, seperti game online dan playstation. Apabila hal ini berjalan terus-menerus maka akan menjerumuskan anak-anak ke hal negatif, seperti anak menjadi sulit berinteraksi, sulit bersosialisasi dengan teman, perkembangan kognitif kurang optimal dan cenderung menjadi pasif. Selain mengangkat kembali kepopuleran permainan tradisional yang sempat tergerus oleh era digital, khususnya pada anak-anak, kepedulian Miftah dan Muslih diharapkan mampu meningkatkan anak-anak menjadi lebih aktif, interaktif, sekaligus meningkatkan kognitif sang anak.

Pada program IDEnesia, Untuk Indonesia Kaya yang ditayangkan di Metro TV, Miftah memaparkan bahwa pada awalnya anak-anak tidak antusias bahkan mereka tidak mengetahui cara memainkan beberapa permainan tradisional, seperti gasing, egrang, dan gobak sodor. Melalui program yang dimiliki Kampoeng Hoempimpa, seperti #DolananYuk, Hompimpa ke Sekolah (HKS), dan beberapa kegiatan lainnya, Miftah berharap anak-anak mampu memahami makna setiap permainan tradisional serta memperoleh esensi yang terkandung di dalamnya, seperti kekompakan, kebersamaan, dan kemampuan mengatur strategi.

Penulis: Muntiani, CSSMoRA Surya University, Prodi Digital Communication

Facebook Comments


(Next News) »



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *