Jomblo Itu Bid’ah (?)

Oleh: Muhammad Zidni Nafi’

 

Entah sejak kapan muncul istilah “jomblo” yang dalam arus budaya masyarakat kita yang kini semakin ramai diperbincangkan sana sini. Kalau sejarahnya tentu sudah berlangsung sejak peradaban awal manusia. Jelaslah, masak zaman kuno dahulu seorang bayi lahir terus langsung mempunyai pasangan kan tidak mungkin?

Namun untuk sementara, dalam tulisan ini kita perlu sepakati bersama bahwa jomblo itu tidak mempunyai pasangan atau tidak berani menikah pada usia yang sudah sewajarnya (relatif) dengan berbagai latar belakang yang berbeda. Mau sepakat atau tidak itu tidak menjadi hal yang penting. Pada intinya, itu terserah anda sebagai jomblo (itu khusus jika anda merasa jomblo).

Coba lihat dewasa ini, dari penjuru dan pelosok negeri ini, entah desa maupun kota, banyak orang dari kalangan muda sampai angkatan tua mempunyai beragam keyakinan dalam memantapkan diri mereka sebagai jomblo.

Ada yang meyakini bahwa jomblo itu memang sudah digariskan Tuhan, sehingga harus mengambil banyak hikmah di balik jomblo. Lalu jombo diyakini sebagai jalan terbaik untuk mencegah perbuatan zina, sehingga predikat jomblo itu sangat dimuliakan oleh Tuhan. Bagusnya, ada segelintir kalangan yang mantap beraliran “jombloiyyah” lantaran sibuk belajar dan berkarir dahulu.

Uniknya ada yang meyakini pepatah kuno; barang siapa yang istiqomah dengan kejombloannya, niscaya pada saatnya nanti mendapatkan pasangan idaman lahir dan batin, langgeng dunia sampai akhirat. Lebih lucunya lagi, almamater jomblo diyakini sebagai suatu ujian dari Tuhan, supaya bagaimana bisa tetap tulus dan setia untuk mencintai Tuhan. Subhanallah…

Banyak alibi (alasan) para jomblo mempertahankan statusnya. “Memilih pasangan itu tidak semudah membalikan telapak tangan,” begitu kata beberapa orang. Ada yang sok bijak, “Menikah itu suatu yang sakral dan sembarangan, meskipun katanya nikmat, tapi kan berat tanggungannya,” jawab kalangan yang mudanya sudah diujung senja.

Lain lagi kalo kita menyoroti stigma masyarakat memandang wabah jomblo. Mulai dari anggapan jomblo itu wujud tidak laku akibat terlalu selektif memilih pasangan, atau orang jomblo itu pertanda malu (baca: males) memberikan ‘kode’ kepada orang lain atau tak sensitif menerima ‘sinyal kode’ dari orang lain.

Parahnya, ada anggapan jomblo itu kualat akibat sering mengejek orang lain yang dahulu tidak laku-laku (calon jomblo mengejek jomblo). Lebih parahnya, jomblo itu pertanda laknat Tuhan akibat sering mempunyai niat atau bertindak yang tidak baik terhadap calon pasangannya (semoga yang terakhir ini tidak akan terjadi pada diri kita).

Hal ini yang menempatkan jomblo jadi bulan-bulanan masyarakat, sumber kelucuan, tempat maki-makian dan cemoohan dimana-mana, bahkan diskriminasi yang menyakitkan lahir batin. Padahal jomblo juga punya hati nurani yang lembut, dan Hak Asasi Manusia (HAM) mereka perlu dilindungi oleh pihak yang berwenang.

Lalu sebenarnya, apa ber-jomblo itu boleh atau nggak sih? Terus efek sampingnya berdosa atau berpahala sih?

Jomblo itu bid’ah. Kok bisa? Dikatakan bid’ah sebab istilah dan ajaran ini tidak ada di zaman Nabi Muhammad dan sahabatnya. Tentu akan ada yang membantah bahwa praktik-praktik amalan jomblo ada zaman itu, hanya saja cara dan latar belakang yang berbeda. Silahkan, ini hanya masalah konsep budaya di zaman dan daerah yang berbeda.

Coba kita ingat-ingat lagi, dahulu Rasulullah Muhammad pernah bersabda dalam bahasa sehari-hari kita orang yang sudah mampu untuk menikah, maka beliau menyarankan kita untuk menikah. Jika belum mampu (sudah tidak kuat menahan ingin ‘itu’), maka termasuk para jomblo diminta Rasulullah untuk berpuasa.

Dalam riwayat hadis tersebut kita bisa melihat kemampuan mengikat pasangan oleh seseorang itu berbeda-beda, ada yang mampu dari segi ilmu, tetapi anggarannya belum mampu, atau sebaliknya. Lantaran tidak sedikit jomblo yang belum mampu baik itu secara lahir maupun batin, di tambah zaman yang serba jual mahal untuk dijadikan sebagai pasangan. Jadi pantaslah predikat jomblo semakin jadi idaman dam alternatif kalangan muda maupun tua.

Lalu bagaimana dengan jomblo masakini? Apakah pada lupa dengan ajaran Nabi untuk berpuasa seperti penjelasan di atas?

Nampaknya memang para jomblo terus berupaya dari utara ke selatan mencari berjuta alibi untuk menyangkal tuduhan masyarakat. Dan tak kenal lelah untuk mencari zona aman dan nyaman untuk menyadarkan diri sebagai jomblo yang keberadaannya memang sudah dipahami Rasulullah sejak 14 abad yang lalu.

Begitu bijaksananya Rasul khususon kepada para jomblo. Mari amati kembali, rekomendasi “berpuasa” yang sampaikan Rasulullah sungguh relevan untuk bisa diterapkan pada zaman sekarang. Tidak percaya?

Puasa itu secara konvensional kan jelas seperti itulah (pasti sudah pada tahu semua). Yang paling penting itu tidak sempit dalam memaknai puasa. Sehingga para jomblo sebaiknya berpuasa dari hal-hal romantis, cinta, manja, atau hanya sekedar mengharap perhatian semacam ucapan “Met malam”, “Met bobok”, “Met pagi”, “Jangan lupa telat makan”, dan sebagainya.

Selain itu, para jomblo diminta juga untuk  berpuasa kencan, jalan-jalan, nonton, belanja, dan sejenisnya. Sehingga berpuasa inilah sebagai prinsip yang harus dipegang oleh para jomblo sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah.

Kalau ada jomblo yang tidak seperti itu, bisa dikatakan JOMBLO yang BID’AH, karena tidak mengikuti amalan puasa yang diperintah Rasul. Hanya saja nanti kan ada kategorisasi, bid’ah yang hasanah (baik) atau sayyiah (buruk). Bayangkan apabila orang pada memilih jomblo sebagai jalan hidup, tentu tidak akan ada kemajuan peradaban. Apalagi Rasulullah sangat membanggakan umatnya yang sekian banyak ini.

Oleh karena itu, walaupun para jomblo tidak berpuasa sebagaimana uraian di atas itu tidak apa-apa. Yang penting tetap tidak melanggar prinsip keimanan dan syariat agama. Tentunya pilihan jomblo tidak untuk dijadikan prinsip seumur hidup.

Topik yang bukan ilmiah ini tidak usah dianggap serius, karena pada dasarnya isu jomblo merupakan problematika yang memang serius bagi kehidupan umat manusia.

Jadi apabila sudah tahu demikian, para jomblo yang sejati tidak usah khawatir ketika nanti tiba-tiba disambut pertanyaan, “Kapan Nikah?”

 

Penulis adalah santri asal Kudus yang studi di UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

Facebook Comments


« (Previous News)



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *