Jalani KKN Internasional Di Malaysia, Bikin Tambah Cinta Pada Indonesia

Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya merupakan salah satu perguruan tinggi mitra Kementerian Agama Republik Indonesia untuk Program Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB) sejak tahun 2006. Kampus yang beralamatkan di Jalan Ahmad Yani No. 117 ini telah melaksanakan program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Internasional Malaysia pada 08 Mei-07 Juni 2018 lalu. Dari 10 peserta KKN Internasional Malaysia terpilih, 2 di antaranya adalah mahasiswa PBSB UINSA angkatan 2015 Program Studi Pengembangan Masyarakat Islam. Siapakah mereka dan bagaimana mereka menjalani proses KKN di Negeri Jiran, berikut kisahnya.

Adalah Annisa Mujahidatul Fauziah dan Anik Mahfudhoh yang mendapatkan kesempatan emas untuk menjalankan KKN Internasional di Sarawak-perbatasan Malaysia-Indonesia. Program tahunan yang merupakan bentuk kerja sama antara UINSA dengan Hikmah Malaysia (Lembaga Dakwah Islam di Malaysia, Red.) dijalani oleh kedua mahasiswa tersebut bersama delapan mahasiswa UINSA lainnya.
Sebelum ke Sarawak, Annisa dan Anik bersama 8 temannya harus transit terlebih dahulu di Pontianak (08/05). Pada tanggal 09 Mei 2018, mereka mendapatkan pembekalan sekaligus pembagian kelompok bersama dengan utusan dari 5 kampus lain yang juga akan melaksanakan KKN di Malaysia. Dan pada tanggal 11 Mei, mereka tiba di Sarawak dan langsung diterima oleh Pengurus Hikmah Malaysia untuk penyambutan peserta dan pembukaan program KKN ini. Setelah pembukaan, mereka diantar ke tempat yang telah ditentukan sesuai dengan kelompoknya. Bedanya dengan kampus lain yang juga ikut berkontribusi dalam program kerja sama dengan Hikmah ini adalah hanya UINSA yang memakai sistem seleksi untuk perekrutan mahasiswa dalam program KKN Internasional Malaysia.
Kedua mahasiswa itupun ditempatkan di tempat yang berbeda-beda. Annisa-sapaan karib Annisa Mujahidatul Fauziah- ditempatkan di Kampung Kendaie, Kota Lundu bersama 3 mahasiswa lain dari kampus yang berbeda. “Kampung saya ini satu-satunya kampung yang jalannya masih bergelombang, kampungnya di pedalaman lewat kebun-kebun sawit. Jalanannya rusak karena lori (truk, Red). Akses ke sana sih agak susah. Terus jarak antara perkampungan dengan pusat kota harus ditempuh selama setengah jam dengan mobil,” papar Annisa.
Kondisi keagamaan dengan minimnya pengetahuan Islam dari para penduduk, membuat Annisa dan Anik harus benar-benar memberikan kontribusi terbaik ketika berdakwah di negara yang suhunya lebih panas dari Indonesia tersebut. Berbagai program mereka berikan sesuai dengan objek dakwah mereka.
Jika bersama anak-anak dan remaja, mereka mengajari baca tulis Al Quran di surau sejak setelah maghrib hingga isya setiap hari. Jika anak-anak sedang libur sekolah, pada siang hari, mereka pasti ke surau untuk belajar bersama peserta KKN Internasional, hal yang diajarkan pun variatif mulai dari cerita hikmah, cara bikin karya seni, bikin puisi, sharing tentang cita-cita. Berbeda halnya jika dengan ibu-ibu, mereka lebih fokus di ngaji dan salat. “Kita tekankan di fardu ain saja sih untuk ibu-ibu,” jelas Annisa. Sedangkan jika bapak-bapak menjadi ranahnya mahasiswa KKN yang laki-laki.
Selain kegiatan keagamaan, kegiatan sosial juga dilakukan bersama dengan masyarakat nonmuslim di sana. “Kegiatannya berupa kerja bakti atau gotong royong kampung dan lomban jasmani buat anak-anak muslim dan nonmuslim,” tutur mahasiswa yang berasal dari Sidoarjo tersebut. “Di sana benar-benar merasa asing, tapi itu malah menjadi pelajaran dan tantangan bagaimana kita bisa menjalin keluarga baru dengan masyarakat Malaysia,” lanjut perempuan berkacamata tersebut.
Menurut Annisa, ke luar negeri itu penting. “Kadang kita untuk memahami sesuatu, kita harus lihat dari luar, siapa sih Indonesia, apa sih Indonesia, biar semakin semangat untuk berkontribusi untuk Indonesia. Dan pasti kita punya referensi atau pengalaman baru yang bisa kita bagikan di Indonesia. Dan tujuan yang lainnya adalah mensyukuri bumi Allah di bagian lain. Dan nilai plus-nya bisa punya relasi baru.”
Perempuan yang saat ini berada di semester 7 tersebut menambahkan, ke luar negeri itu enak, bisa bikin tambah cinta, tambah kangen, dan sayang sama Indonesia. “Bermimpilah ke luar negeri! Jika ada kesempatan majulah, soalnya saya juga minder ketika proses seleksi dulu. Tapi saya bilang ke diri saya sendiri. Kamu nggak bersaing dengan siapapun kok, kamu cukup kalahkan dirimu sendiri dari rasa takut dan minder. Dalam proses ini saya harus lebih baik dari diri saya yang kemarin, entah itu pengetahuan, keberanian, dari sebelum ikut seleksi ini. Saya tidak memandang yang lain sebagai saingan, terserah yang lain mau gimana-gimana, yang penting saya harus mengalahkan diri saya sendiri,” pungkasnya.
Begitupun dengan Anik, meski lokasi KKNnya berbeda dengan Annisa yang terletak di Kampung Gayau, Pantu, Sri Aman, berbagai pengalaman dan kesan ia dapatkan ketika menjalankan proses KKN di sana. Mahasiswa asal Lamongan ini menjelaskan bahwa di Malaysia metode dakwahnya formal, hanya dai legal yang memiliki sertifikat saja yang bisa berdakwah. Mahasiswa PMI yang sudah pernah ke Jepang untuk mengikuti program JENESYS di tahun 2017 lalu ini berpesan, ”Kalau kamu ingin (ke luar negeri), coba saja. Dan jangan malu untuk copy paste! Tirulah budaya yang baik dari negara yang pernah kamu kunjungi,” pungkas mahasiswa berkacamata tersebut ketika ditemui di kediamannya. (mee)

Facebook Comments





Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *