Ini Lho Islam Indonesia, Cuk (!)

Oleh: M. Zidni Nafi’

Terkadang saya enggak habis pikir tentang aneh dan uniknya Islam di Indonesia. Wong ini negara mayoritas muslim, bahkan terbesar di dunia loh, jangan salah!! Tapi coba kita lihat sendiri lah kenyataannya kayak apa. Saya enggak mau menerka-nerka penilaian anda tentang sejauh mana ‘prahara’ rumah tangga umat Islam yang terjadi di Indonesia. Entah itu nanti ada yang membandingkan dengan Islam di wilayah padang pasir sana yang sebagian mengatakan Islam adalah segala-galanya, atau dengan di belahan bumi sana yang mengatakan Islam itu menyeramkan, identik kekerasan, banyak kupon berhadiah bidadari kalau berani mainan sama bom, dan sebagainya. Lha terus apa maksudnya?

Sedemikian kompleks dinamika Islam di Indonesia benar-benar melahirkan wajah baru yang teramat sulit untuk diuraikan; sebenarnya mana Islam, mana pemahaman tentang Islam, mana umat Islam, mana lembaga keislaman. Kalau dahulu ada orang mengatakan, “Aku Islam NU rek, kalau kamu apa? Wah aku jelas Islam Muhammadiyah dong! Kalu dia? Oh kayaknya dia Wahabi.” Mungkin sekarang dialog seperti itu jawabannya sudah mulai bergeser. “Aku nih Islam Netral kok, enggak NU, enggak Muhammadiyah, apalagi Wahabi,” kata beberapa anak muda bergaya baru dari kalangan muslim.

Mungkin kalau hari ini bisa berjumpa dengan Kanjeng Nabi, saya langsung mohon izin untuk intrupsi. “Ya Rasulallah… Sebenarnya mana tho yang benar? NU, Muhammadiyah, Wahabi, Syi’ah, atau ISIS?” Nampaknya jawaban Kanjeng Nabi tidak akan jauh dari ini, “Sebentar anak muda, maksudmu NU itu apa? Terus Muhammadiyah itu apa juga? Kok rasanya mirip namaku. Sedang Wahabi tadi agak mirip pula dengan nama kakekku. Apalagi apa itu ISIS, di zamanku tidak ada istilah itu. Kalau Syi’ah bukannya itu bahasa Arab yang bermakna ‘kelompok’ ya?” Entahlah, maafkan saya hanya suka membayangkan berdialog sama Kanjeng Nabi terkait hal-hal yang unik dan aneh seperti itu di zaman yang penuh dengan “hoax” ini, nggak apa-apa tho?

Mengindonesiakan Islam, atau?

Islam Indonesia, sebuah entitas yang berusia 71 tahun—kalau dihitung dari kata “Indonesia” yang secara konstitusi menjadi nama resmi negara pada tahun 1945—termasuk masih terbilang muda, tetapi bisa dibilang sangat “sepuh” mengingat versi beberapa sejarawan memaparkan bahwa pada rentang abad 7/8 Islam sudah masuk di Indonesia, meskipun kala itu agama Islam belum berkembang. Sehingga untuk penamaan oleh sebagian kalangan, katakanlah Nadhliyyin menyebut “Islam (NU)santara” yang lebih mengakar itu sangat relevan dan secara brand juga sangat ‘menjual’ dibanding “Islam Indonesia”. Adapula yang meskipun sudah dijelaskan maksudnya secara epistemologis, filosofis, historis, tapi ya tetap saja selalu ngotot berpegang teguh, “Islam ya Islam, nggak boleh dikasih embel-embel. Itu bid’ah!”

Terlepas dari perdebatan itu, yang jelas sebagai sebuah sejarah bangsa yang telah beragama Islam selama berabad-abad, Indonesia sudah sepatutnya menjadi umat Islam yang ‘dewasa’. Bukan sebagai umat Islam ‘kekanak-kanakan’ yang suka menghantam tetangganya yang tidak ber-KTP Islam, merampas hingga menutup sumber rejeki halal dari warung yang buka di bulan Ramadhan, bahkan sampai-sampai mengepel lantai masjid dari bekas telapak kaki orang di luar kelompoknya, emang asu rek?

Coba kita amati juga sepak terjang organisasi impor—ngakunya partai Islam—yang nampaknya belum bisa move on dari sejarah Islam klasik. Entah ‘ajian’ apa yang mereka miliki, semua masalah bisa diatasi dengan “khilafah”, jos kan? Bagaimana tidak jos, bukan sekedar masalah kemiskinan, korupsi, bencana yang bisa terhindar dengan mudah melalui khilafah, apalagi kalau cuma masalah kenaikan harga cabe, melambungnya daging sapi, kemacetan di kota besar, kelangkaan elpiji, dan lain sebagainya. Kasih bukti nyata dulu atuh! Demokrasi di Indonesia yang warbiyasa ini membuka ruang untuk siapapun kok.

Sekalian saja mengentaskan surplus jomblo yang akibat ‘kegalauannya’ merajalela itu dapat mengganggu stabilitas bangsa. Kalau mau, memungkinan besar simpatisan jamaah anti demokrasi itu akan bertambah dari barisan para mantan dan kalangan jomblo berkualitas, kan lumayan. Atau jangan-jangan, malah nanti ada terobosan anyar bisa “menggandakan uang” dengan cara yang syar’i? Kalem bro.. !! Yang pasti, Khalifah itu anak tetanggga saya. #Eh. Secara khusus, sebagai negara yang katanya demokratis ini saya tetap menghormati lantaran mempunyai iktikad baik untuk bangsa yang masih berbendera merah putih ini.

Bela Islam, Kok Bingung

Muncul pertanyaan, umat Islam di Indonesia ini maunya apa tho? Yang hijau minta ini, yang biru mau itu, yang merah pengen anu, yang kuning nggak minat anunya ini itu. Coba kita lihat “kasus” kemarin, mosok yang tidak ikut aksi bela Islam—entah apa/siapa yang sebenarnya dibela—lalu ada yang meragukan keislamannya, atau di sisi lain di antara mereka yang tidak ikut turun aksi ke jalan menganggap yang aksi bela Islam disinyalir punya misi-misi tertentu.

“Jancuk, mereka maunya apa tho rek? Sama-sama Islamnya kok nggak jelas misinya,” kata suara sumbang yang terlontar dari riuh-riuh warung kopi yang tak sempat diliput media. “Eh bro, maksudmu apa jancuk-jancuk tadi?” saut seorang santri yang  senantiasa istiqomah ngopi mengenakan sarung dan peci khasnya. Dari fenomena ini, jangan langsung salahkan ‘ijtihad’ para penikmat kopi yang selalu ‘mengampanyekan’ hidup woles itu.

Apalagi cuma masalah ungkapan jancuk, jancok, dancuk, dan sejenisnya. Kalau boleh meminjam ajaran Cak Nun, kata tadi asal mula dari akar kata Da’Suk. Da’ artinya “tinggalkanlah kamu”, dan assyu’a artinya “keburukan”, lalu digabung menjadi Da’Suk yang artinya “tinggalkanlah keburukan”. Jadi Jancuk itu bisa menjadi ekspresi untuk nahi munkar atau melawan kebatilan.

Sebagaimana juga falsafah Sujiwo Tejo, “jancuk” itu ibarat sebilah pisau. Fungsi pisau sangat tergantung dari pengguna dan suasana psikologisnya. Kalau digunakan oleh penjahat, bisa jadi senjata pembunuh. Kalau digunakan oleh seorang istri yang berbakti pada keluarganya, bisa jadi alat memasak. Begitupun “jancuk”, bila diucapkan dengan niat tak tulus, penuh amarah, dan penuh dendam maka akan dapat menyakiti. Tetapi bila diucapkan dengan kehendak untuk akrab, kehendak untuk hangat sekaligus cair dalam menggalang pergaulan, jancuk laksana pisau bagi orang yang sedang memasak. Jadi, “jancuk” merupakan simbol keakraban, kehangatan, kesantaian. Lebih-lebih di tengah khalayak ramai yang kian munafik, keakraban dan kehangatan serta santainya “jancuk” kian diperlukan untuk menggeledah sekaligus membongkar kemunafikan itu.

Sudah cukup, terlalu dalam kalau mau membahas filosofi janc#k, namun yang jelas mereka, kita dan siapapun yang sadar tentu tidak mau bangsa yang sudah berkembang sejak zaman Joko Tingkir sampai Joko Widodo ini masih saja berkutat pada gombalan anti Cina, anti kafir, anti suku, dan anti-anti lain yang tak produktif. Memang sudah saatnya, janganlah kita menjadi ‘pengangguran’ yang suka mencari kesibukan untuk mempermasalahkan sesuatu yang tidak membuat negeri ini maju! Ampuni kami Gusti Allah…

Menghidupkan Gus Dur

Di tengah situasi kemelut bangsa yang ‘sakit’ ini, rasanya kangen sekali akan sosok kiai sekaligus guru bangsa yakni KH Abdurrahman Wahid yang akrab disapa Gus Dur. Sebagaimana biasanya kalau bingung tentang suatu fenomena di negeri ini, tak afdhol kalau belum membuka ajaran Gus Dur dari lembaran karya-karya yang sampai kini senantiasa dilestarikan oleh para pengikutnya. Untuk itu, apa yang sebenarnya harus dilakukan oleh umat Islam di Indonesia dewasa ini?

Dalam buku Islam Kosmopolitan (2007) Gus Dur mengajarkan bahwa Islam bukanlah sesuatu yang statis, dan ajaran Islam bukan sesuatu yang sekali jadi sehingga tidak membutuhkan reformulasi maupun reaplikasi. Dengan kata lain, pengembangan hukum Islam dasarnya harus selalu diterjemahkan secara kontekstual. Prinsip-prinsip universalisme Islam yang berpijak pada asas kerukunan, kebersamaan, memperjuangkan keadilan dan menolak berbagai atribut tindakan diskriminatif serta kekerasan menjadi pertimbangan dasar dalam pengambilan keputusan hukum.

Sebelumnya jauh-jauh hari Gus Dur menegaskan dalam Pribumisasi Islam (1989), nilai dasar ajaran Islam (Weltanschauung Islam) terbagi dalam tiga bagian; persamaan, keadilan dan demokrasi. Ketiga ini diejawantahkan dalam sikap keislaman, kebangsaan dan kemanusiaan. Itulah kenapa ada agenda prioritas di mana Gus Dur mengajak untuk menciptakan kesadaran masyarakat tentang apa yang harus dilakukan umat Islam dalam bangsa Indonesia majmuk ini. Dengan kata lain, nasionalisme umat Islam di Indonesia harus beriringan dengan pluralitas bangsa sendiri.

Masa Depan Islam Indonesia

Sebuah karya Gus Dur yang berjudul Islamku, Islam Anda, Islam Kita (2006), terdapat beberapa poin penting mengenai perjuangan Islam di Indonesia. Paling tidak, dari hasil pembacaan ada 3 hal yang perlu kita perhatikan; (1) mewaspadai gerakan aliran garis keras yang infiltrasinya masuk di ruang-ruang partai politik, lembaga pendidikan, dan berkerumun di tengah-tengah masyarakat.

Berkaitan dengan itu, (2) formalisasi syariat Islam yang dituangkan dalam peraturan perundangan-undangan—di luar konteks bab perkawinan, waris, haji, dst—akan menghambat laju demokrasi dan pluralitas bangsa Indonesia. Bukan apa-apa, Gus Dur menginginkan formalisasi agama itu sebaiknya diwujudkan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari oleh umat Islam sendiri, agar umat Islam menjadi inspirasi dalam kehidupan bernegara.

Selanjutnya untuk menjawab keraguan dan tuduhan, (3) umat Islam di Indonesia perlu menjunjung tinggi esensi ajaran Islam untuk menegakkan keadilan dan hak asasi manusia, mengutamakan kepentingan umum (maslahat al-‘am), menebarkan perdamaian, tidak ada lagi diskriminasi dan penindasan apalagi kepada kaum minoritas, hingga menjauhkan masalah terorisme yang telah menodai ajaran kasih sayang agama Islam.

Kalau sudah lumayan jelas dalam memetakan kondisi masalah di atas, lalu sebenarnya di sebelah mana dan mau ke mana kita akan melangkah untuk membawa gerbong Islam Indonesia ini? Apakah perlu kita bersama-sama datang ke kabupaten Jombang untuk memohon kepada mendiang Gus Dur supaya kembali mengingatkan kepada kita tentang arti penting dari idiom ‘Gitu Aja Kok Repot’?

Bandung, 1 Januari 2017

M. Zidni Naf’, santri asal Kudus yang hijrah kuliah di UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

Facebook Comments





Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *