Indonesia Beruntung Miliki Ulama yang Nasionalis

Bandung, CSSMoRA Online
Gejolak peperangan di Timur Tengah dan sekitarnya hingga kini belum kunjung menemukan titik temu. Hal ini membuat Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj merasa prihatin melihat wilayah yang mayoritas memeluk agama Islam itu.
Afghanistan, Syiria, Somalia adalah Negara yang hampir seratus persen muslim, tetapi penduduknya terus mengalami perang saudara. Apalagi Syiria dan Iraq merupakan negara yang pernah menjadi pusat peradaban Islam, tetapi setiap hari bom meledak berbagai tempat, dari meledak di pasar, bahkan di masjid.
“Kondisi yang memalukan dan memilukan. Tidak jelas siapa melawan siapa, tujuannya apa, targetnya siapa. Kalau di Indonesia sudah jelas musuhnya, melawan terorisme dan narkoba sebagai musum bersama,” ujar Kiai Said saat mengisi seminar tentang Optimalisasi Peran Mahasiswa NU di Kampus yang digelar oleh KMNU, di auditorium UPI Bandung, Jum’at (22/1) lalu.
Menurut Kiai Said, di Indonesia sebelum NU lahir, sekitar tahun 1914 ulama ternyata sudah mempunyai visi untuk menyinergikan antara Islam dan wathaniyah (kebangsaan). Karenanya Islam saja atau wathaniyah saja belum tentu bisa mempersatukan umat.
“Ulama kita sampai punya jargon hubbul wathan minal iman (cinta tanah air sebagian dari iman, red). Itu bukan hadis, makanya coba cari ulama Timur Tengah yang mengeluarkan jargon seperti itu pasti tidak ada,” terangnya.
“Alhamdulillah kita beruntung punya pemimpin ulama yang nasionalis, sampai-sampai mengeluarkan Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 tentang membela tanah air hukumnya fardhu ain,” sambungnya menceritakan tentang kisah KH Hasyim Asy’ari dan ulama-ulama lain yang berjuang merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia bersama para santri.
Lebih lanjut, Said Aqil menambahkan bahwa mayoritas ulama-ulama yang mencintai tanah air sudah ada jauh sebelum NU lahir pada tahun 1926, sehingga sampai kini perjuangannya diteruskan oleh-oleh ulama-ulama NU.
“Sudah saatnya NU harus tampil di depan, Negara kita kalau tidak ada NU sudah wallahul muwafiq ila aqwamith thariq,” tegasnya. (M. Zidni Nafi’)
Facebook Comments





Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *