Iman, Hijrah, Jihad: 3 Kunci Meraih Kesuksesan

Iman bila diartikan dengan merujuk pada pendapat ulama adalah keyakinan (i’tiqad) pada Allah yang diekspresikan dengan ucapan (iqrar bi al-lisan), mempercayai dalam hati (tasdiq bi al-qalb), dan perbuatan dengan menjalankan rukun-rukun agama (amal bi al-arkan). Namun bila diambil pemaknaanya yang lebih universal, maka iman adalah sebuah keyakinan atau tekad yang mengantarkan manusia untuk tidak hanya sekedar yakin namun mampu mewujudkan apa yang diyakininya (mimpi-keinginan-tujuan) itu.
Dalam upaya mewujudkan, tidak cukup hanya dengan pengakuan dalam hati dan ucapan lisan saja, namun butuh adanya gerak (movement) yang merupakan bentuk aksi nyata seorang manusia. Maka perlu adanya hijrah. Hijrah yang dimaksud ialah menggerakkan diri untuk berpindah ke zona-zona positif yang mampu memberikan atmosfer yang baik bagi pengembangan diri. Maka tidak heran jika dalam salah satu perkataannya, Imam Syafi’i menganjurkan kita untuk merantau. Karena dengan merantau, otomatis kita meninggalkan zona nyaman kita dan belajar untuk mampu hidup secara mandiri.
Selanjutnya, jika sudah menghijrahkan diri menuju zona-zona positif tadi, manusia dituntut untuk mampu ber-jihad (berjuang) dengan segenap daya upayanya. Sehingga apabila ia menginginkan untuk mewujudkan apa yang diyakininya, maka ia harus mengeksplor semua bakat dan kemampuan yang dimiliki dan mengasahnya secara sungguh-sungguh. Maka disini dapat dilihat bahwa jihad tidak bermakna sempit hanya pada peperangan, melainkan lebih dari pada itu.
Nah sekarang bagaimana tiga kunci itu dapat diaplikasikan oleh kita sebagai mahasiswa dalam upaya mewujudkan mimpi-mimpi kita? Tentunya pertama kita harus memiliki tekad atau keyakinan yang kuat dalam diri kita bahwa kita pasti mampu mewujudkan mimpi-mimpi kita. Dari sekian banyak seminar motivasi yang saya dengar, hampir semua motivator menyuruh audiens agar menuliskan mimpinya-mimpinya. Maka tolong bagi yang baca tulisan ini, tulislah mimpi kalian!
Apa hanya cukup menuliskannya saja? Tentunya tidak. Maka sesuai uraian teori yang telah saya tuliskan sebelumnya, kita harus berhijrah! Bagi saya hijrah ini penting, karena kita membutuhkan lingkungan yang dapat memberikan kita motivasi dan pengalaman yang dapat menjadi petunjuk sebelum kita mengeksekusi mimpi-mimpi kita. Kata orang, selagi masih S1, maka manfaatkanlah waktu sebaik mungkin dengan mengikuti komunitas-komunitas (sesuai bakat dan minat) yang dapat memperluas jaringan pertemanan kita. Karena biasanya dari sana kita akan kenal orang-orang hebat yang bisa ambil ilmu dan pengalamannya.
Selanjutnya akankah kita berhenti hanya setelah mendapat komunitas dan relasi pertemanan yang luas? Tidak bisa dipungkiri memang banyak yang seperti itu. Mereka lupa akan mimpinya, berhenti bergerak dan akhirnya imannya pun mati. Kenapa mati? Karena salah satu ciri benda mati adalah tidak bergerak. Maka faktor penentu disini adalah jihad. Setelah mendapat ilmu dan pengalaman dari orang-orang yang lebih dahulu hebat dari kita, maka sudah sepantasnya tekad kita semakin kuat dan bahkan boleh jadi kita bermimpi untuk menyalip kesuksesan guru-guru kita. Bolehkah? Ya jelas bolehlah, kan cuma mimpi.
Kembali ke jihad, jadi jihad yang harus kita upayakan adalah jihad yang sebagaimana dikatakan al-Qur’an yakni perjuangan yang rela mengorbankan harta dan jiwa. Namanya perjuangan tentulah harus ada yang dikorbankan jika ingin mencapai tujuan. Jadi jangan pernah merasa menyesal jika dalam jihad yang ditempuh kita harus merogoh kocek yang cukup dalam, atau bahkan harus kehilangan waktu santai dengan belahan jiwa. Sungguh! Percayalah! Seberapa greget usahamu, segreget itu juga hasil yang akan kamu peroleh. (Sumber Inspirasi: Q.S al-Baqarah: 218)

Facebook Comments





Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *