IBRAH ATAS LAHIRNYA JARGON “ENERGY OF ASIA”

Oleh
Ahmad Fahrur Rozi
(Mahasiswa penerima beasiswa PBSB Kemenag RI UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir)

Memasuki periode pertengahan tahun 2018 tepatnya antara bulan Agusutus hingga September tahun ini, bangsa dan negri pertiwi dikagetkan dengan fenomena peta pertarungan pemilihan kursi capres dan cawapres untuk periode mendatang. Beberapa hari yang lalu bangsa ini telah menorehkan tinta sejarah kesuksesan dimata dunia internasional dengan suksesnya penyelenggaraan pesta olahraga empat tahunan umat Asia yakni Asian Games. Prosesi penghelatan acara tersebut banyak menuai pujian dari berbagai pihak baik dalam ranah nasional ataupun internasional, dimana secara tidak langsung kesuksesan tersebut juga berupa wujud hadiah ulang tahun bagi kemerdekaan RI ke 73 yang jatuh tepat pada 17 Agustus kemarin. Secara kasat mata bangsa ini dihadapkan dengan situasi yang begitu kompleks pada momen-momen ini dengan berbagai kegiatan yang dilaksanakan oleh negri ini.
Berbicara tentang hadirnya fenomena krusial penentuan capres dan cawapres merupakan suatu topik yang begitu hangat dalam perbincangan sosial masyarakat negeri ini. Terlebih dengan munculnya sebuah keputusan-keputusan dan untaian-uantain komentar kontradiksionis yang banyak mengundang perdebatan dan tanda tanya di benak masyarakat terkait dengan isu ini. dan pada akhirnya munculnya kembali dua poros kekuatan yang akan maju dalam pilpres tahun depan tidaklah dapat tergantikan dikarenakan keputusan yang telah bulat, meskipun banyak dihiasi dengan bumbu-bumbu perdebatan baik berupa argumentasi empiris atau hanya sebagai bentuk wacana dan opini licik yang didengungkan oleh para fanatisme suatu kelompok tertentu. Tak dapat dipungkiri kondisi perpolitikan bangsa saat ini secara eksplisit terpecah menjadi dua poros yang sama-sama kuat,hingga berujung dengan dikenalnya istilah “cebong dan kampret”.
Kondisi diatas berbeda halnya dengan kondisi bangsa ini yang sukses menjadi tuan rumah penyelenggaraan pesta olahraga warga Asia, dimana seluruh elemen bangsa ini seakan sedang berpesta ria bersama meninkmati gegap gempita hiruk pikuk atas kesuksesan penyelenggaraan event ini, terlebih para atlet terbaik bangsa dapat memberikan hasil yang maksimal bagi bangsa ini. Adapun dalam konteks yang demikian segenap bangsa bersatu dalam satu integritas dalam nuansa kegembiraan menikmati perhelatan terakbar olahraga se Asia ini dengan memberikan support dan dedikasi penuh bagi para sosok-sosok yang terjun langsung dalam berbagai macam kontestasi olahraga yang dipertandingkan. Semangat jargon “Energy of Asia” dirasa sangatlah tepat sebagai bentuk narasi kontruktif dalam usaha mempererat persaudaran sosial dari berbagai macam suku, bangsa dan bahasa. Sehingga secara implisit visi Energy of Asia memiliki makna subtansial yang sangat positif dengan mengedepankan unsur-unsur integiritas antar masyarakat multkulturalis.
Semangat yang demikian senada dengan dengan pancaran semangat persatuan momentum lahirnya bangsa pertiwi yang jatuh pada 17 Agustus tepatnya 73 tahun silam, yang mana para founding fathers negri ini telah berhasil melahirkan kemerdekaan bangsa ini dari tangan para penjajah kolonial dengan semangat dan tekad persatuan bangsa dan negara. Sejatinya semangat persatuan bangsa telah diikrarkan oleh pemuda-pemudi bangsa ini pada prosesi pelaksanaan Kongres Sumpah Pemuda II pada 28 Oktober 1928 jauh sebelum lahirnya hari kemerdekaan negri ini, yang diiringi pula dengan kumandang lagu kebangsaan “Indonesia Raya” untuk yang pertama kalinya. Semangat persatuan tersebut diikrarkan dengan tiga pokok variabel kalimat utama yakni persatuan Tanah Air, Bangsa dan Bahasa Indonesia, yang kelak melahirkan sebuah konsepsi kenegaraan sistem tatanan negara dan bangsa yakni Pancasila dan UUD 1945.
Tentunya dalam menyikapi momen diatas hendaknya segenap umat dapat merefleksikan terlebih dahulu jalanan panjang histori bangsa ini dengan memahami pula kehendak cita para leluhur bangsa bagi bangsa ini kelak. Yakni sebuah nuansa harmonis, yang terintergrasi dalam kondisi masyarakat yang begitu multikulturalis. Oleh karena itu adanya tiga macam topik diatas dapat ditarik sebuah konklusi akhir yakni bahwa ditengah terjadinya kondisi carut marut peta perpolitikan bangsa ini sekarang tidaklah memunculkan lahirnya sikap-sikap fanatisme, diskriminatif dan diskontinuitas antar bangsa, yang mengindasikan lahirnya berbagai macam perpecahan dan disintegrasi bangsa. Akan tetapi hendaknya momen-momen tersebut dijadikan sebagai sebuah momentum mempererat jati diri bangsa ini meskipun tengah dilanda konflik peta perseteruan politik yang begitu signifikan bagi kondisi bangsa ini kedepannya.
Masyarakat pula hendaknya mengambil sisi positif dari suksesnya perhelatan Asian Games di negri ini sekarang, dengan lebih mentafakkuri makna esoteris jargon Energy of Asia, yakni sebuah gerakan semangat persatuan antar bangsa Asia dan bahkan dunia yang diprakarsai oleh negri ini. Sehingga secara tidak langsung Asian Games menjadi indikator terhadap persatuan dan kesatuan bangsa terlebih di dalam kondisi disstabilitas perpolitikan kekuasaan dan kebangsaan negeri ini sekarang. yang mana apabila inisiatif yang demikian dapat tercapai maka akan terlihat kesatuan dan persatuan bangsa ini, sebagai bentuk representasi dan perwujudan “Jati Diri” bangsa di kancah pengkakuan intersnasional, serta akan meminimalisir oknum-oknum tertentu yang ingin memonopoli dan memanipulasi kesatuan dan persatuan bangsa ini. Mengutip pernyataan Anies Baswedan “Kembali ke jati bangsa, ialah melunasi janji kemerdekaan” serta senada dengan komentar Meutia Hatta Swasono Guru Besar Antropologi UI, “Usaha memahami dan mengimplementasi jati diri bangsa, ialah cara memahami tujuan membangun negara”.

Facebook Comments





Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *