Gus Mus: Islam Itu Mudah, Jangan Dipersulit

Pati – KH Mustofa Bisri (Gus Mus) menegaskan bahwa Islam tidak mempersulit siapapun. Karenanya, ia mengajak para penganutnya untuk tidak mempersulit diri dalam mempraktikkan agama.

Demikian diuraikan mantan Rais Aam PBNU dalam acara “Suluk Maleman: Islam Dulu dan Islam Kini” yang berlangsung di Rumah Adab Indonesia Mulia jalan Diponegoro nomor 94 Pati, Jum’at (9/10) malam.

Terkait Islam itu mudah, sayyidatina Aisyah pernah mengajarkaninnaddina yusrun, sesungguhnya agama itu mudah. Dalil lain tentang mudahnya dalam beragama yuridullahu bikumul yusra wala yuridu bikumul usra, tutur Gus Mus.

Pengasuh pesantren Raudlatut Thabilien Rembang ini pernah mengingatkan seorang yang berkonsultasi dengannya lantaran menurut si fulan shalat itu susah. Banyak lafal-lafal yang susah dihafalkan.

Kemudian hal ini dibantahnya misalnya ketika shalat hanya bisa mengucapkan takbir, menurutnya tidak jadi soal. Apalagi dengan tegas Allah menyebut semampunya.

Beragama, lanjut kiai asal Rembang ini, sebenarnya sudah sesuai dengan kebiasaan masyarakat. Misalnya soal hormat kepada tetangga, menghormati orang yang lebih tua maupun hormat kepada yang muda.

Agar beragama tidak salah jalur, menurutnya abd (hamba) harus mengenal Allah. Kenalnya makhluq kepada khaliq (pencipta) tujuannya tidak lain untuk menyenangkan Allah.

Dalam kegiatan rutin yang dihadiri ratusan jamaah ini menyenangkan Allah dan menyenangkan diri perlu dibedakan. Suatu ketika seorang sepulang haji pamer kepadanya lantaran bisa mencium hajar aswad.

“Mencium hajar aswadmu untuk menyenangkan dirimu apa menyenangkan Allah?” tanya Gus Mus kepada si Haji.

Mendengar cerita si Haji, Gus Mus pun mengkritik dirinya mencium hajar aswad hanya perkara yang sunah tetapi jika caranya dengan menyikut banyak jamaah jelas dilarang Allah SWT.

Sehingga dibanyak kitab salaf, bab pertama yang kerap dibahas tak lain ialah tentang mengenal Allah. Kiai ini mengungkapkan dalam beragama jangan tebang pilih hanya memilih berjenggot dan bersorbannya saja,tetapi akhlak mulia Nabi tidak ditiru. Jika demikian, ia menyebut yang prinsip ditinggalkan dan semestinya tidak prinsip malah diagung-agungkan.

“Allah tidak butuh ibadah kita. Tetapi kita yang butuh Allah,” lanjutnya.

Dalam kesempatan ini juga hadir penyair Abdul Hadi WM, Akademisi Ilyas dan shohibul bait Anis Sholeh Baasyin sekaligus pimpinan Orkes Puisi Sampak Gus Uran. (nu.or.id)

Facebook Comments





Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *