Gus Dur dan Keberagaman dalam Beragama (Ngaji Pemikiran Gus Dur di masa Krisis Intoleransi)

 

 

 

 

Oleh : Muhammad Wahyudi[1]

“Islam itu ibarat hutan belantara. Dari jauh terlihat seragam, satu warna, berwarna hijau, tetapi jika dilihat lebih dekat ternyata ada banyak pohon yang bermacam-macam.”[2]

(Abdurrahman Wahid)

 

Berbicara tentang Gus Dur seakan tidak ada habisnya, mulai dari kontribusinya untuk negeri, berbagai keputusannya yang kontroversial, apalagi tentang pemikirannya yang seringkali berada di luar nalar akal mainstream manusia sezamannya. Ia merupakan sosok yang dapat dilihat oleh siapapun tanpa terkecuali, dimanapun dan kapanpun. Ia akan menjelma menjadi sesosok kiai kharismatik di mata kiai-kiai pesantren, seorang jurnalis ketika yang mendiskusikannya adalah mahasiswa dan berbagai macam lainnya sesuai dengan perspektif masing-masing pembacanya. Namun, apapun yang disematkan pada dirinya dan siapapun yang membicarakannya, ia akan tetap dan selalu menjadi orang Indonesia yang beragama Islam.

Pertengahan tahun lalu, tepatnya pada bulan Juli 2017. Kebetulan saya berkesempatan menjadi salah satu peserta The Master Level Course on Sharia and Human Rights yang diadakan oleh Pusat Studi Agama dan Multikultural (PUSAM) UMM. Berbagai narasumber yang berbeda, baik dari luar negeri dan dalam negeri, kesemuanya sama-sama memberikan pemaparan mengenai HAM dan Syariah. Di antara mereka, terdapat salah satu narasumber yang berasal dari Norwegia. Ia adalah Prof. Tore Lindholm. Sebelum memulai pemaparan materi, ia menceritakan kisahnya pada saat pertama kali datang ke Indonesia. Ia menyatakan bahwa orang Indonesia yang ia kenal dan kagumi untuk pertama kalinya adalah Abdurrahman Wahid. Menurutnya, pemikiran Gus Dur mengenai HAM dan pembelaannya pada kaum minoritas menjadi ciri khas yang melekat pada sosoknya, tidak hanya sebatas pada penguasaan teori belaka, melainkan juga pada aksi. Sehingga tak mengherankan apabila “”

Kisah di atas, setidaknya menjadi bukti bahwa memang Gus Dur adalah sesosok manusia yang “unik” dan milik siapapun. Oleh sebab itu, tulisan singkat ini mungkin hanya sekelumit pandangan yang hendak membaca kembali “keunikan” pemikiran Gus Dur perihal keragaman dalam bergama di Indonesia.

Masih lekat dalam ingatan, rentetan Aksi Bela Islam (ABI) yang diadakan untuk mendesak Pemerintah guna menghukum Ahok sebab pidatonya di Kepulauan Seribu yang bagi sebagain orang dirasa menyinggung “umat Islam”. Terlepas dari pihak mana yang benar, Islam—sebagai agama yang welas asih—tentu mengajarkan para penganutnya untuk menyebarkan rahmat pada siapapun tanpa melihat agama, etnis, ormas ataupun parpol yang didukungnya. Namun kenyataannya, dalam serangkaian “Aksi Bela Islam”  kita mendapati bahwa cacian, makian dan ujaran kebencian dilontarkan oleh para penganutnya. Bahkan hal tersebut tidak hanya terjadi di Jakarta, melainkan daerah-daerah yang berjarak ratusan kilometer juga merasakan atmosfir dari Ibu Kota. Di beberapa daerah, khutbah Jum’at yang seharusnya menjadi ruang para khotib untuk memberikan dan menyebarkan ajaran Islam yang ramah, menjadi panggung orasi politik yang juga turut mempermasalahkan hiruk-pikuk politik di Jakarta. Surat Al-Maidah ayat 51 menjadi ayat pilihan untuk ditafsirkan secara mono-perspektif.“Mereka (non-Muslim) dijadikan teman saja tidak boleh, apalagi menjadi pemimpin.”[3]

Pemahaman terhadap Al-Maidah: 51 di atas seakan-akan sudah final dan memang seperti itu yang dikehendaki oleh Tuhan. Sehingga konsekuensi dari itu semua, muslim manapun yang tidak memiliki paham yang sama dengan pemahaman mereka, maka ia telah menyimpang. Salah satu tokoh yang dihujat karena dianggap membela orang kafir dengan menyampaikan pemahaman/ penafsiran yang berbeda mengenai surat Al-Maidah: 51 adalah Kiai Ishomuddin. Hanya karena berbeda pandangan dengan mereka, berbagai hal negatif disematkan pada dirinya, cacian dan makian berseliweran di dunia maya menyerangnya. Dari sini, dapat dilihat bahwa kelompok “Islam” lebih memilih menutup datangnya kebenaran dari pihak lain dan memaksaan kebenaran versi mereka pada orang lain. Perihal demikian, Gus Dur pernah dawuh : “Pencarian solusi tidak akan mudah bila berangkat dari main mutlak dalam pemikiran yang sifatnya tertutup.”[4]

Perbedaan pemahaman dalam beragama seyogyanya tidak menyebabkan permusuhan dan perpecahan antar umat, melainkan adanya perbedaan itu harus dipahami sebagai kasih sayang yang muncul di tengah kebhinnekaan.[5] Karena pada hakikatnya, perbedaan adalah sebuah keniscayaan. Bahkan Tuhan pun tidak menghendaki penyeragaman untuk memberangus keindahan perbedaan. Dalam salah satu ayatnya, Allah berfirman : “Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat” (Q.S. Hud: 119). Ayat ini secara eksplisit membenarkan bahwa perbedaan itu akan selalu ada sebagai wujud dari kehendakNya. Oleh sebab itu, sebuah bentuk penyeragaman atas perbedaan tidak dapat dibenarkan, baik dalam konteks keislaman maupun keindonesiaan.

Dalam menutup tulisan ini, penulis hendak mengutip salah satu pernyataan Gus Dur. Ia menyatakan bahwa “Apa yang dilakukan kelompok Islam keras dengan menuntut penyeragaman, itu tidak bisa dibenarkan. Saya rasa, saya sependapat bahwa semuanya ini terjadi karena mereka nggak paham ajaran agama.”[6]

[1] Penulis adalah salah satu santri Pondok Pesantren LSQ (Lingkar Studi Al-Qur’an) Ar-Rohmah dan sekarang sedang menempuh perkuliahan di Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir UIN Sunan Kalijaga.

[2] M. Sulton Fatoni dan Wildan Fr., The Wisdom of Gus Dur: Butir-butir Kearifan Sang Waskita, (Depok : Imania. 2014), hlm. 20.

[3] Muhammad Iqbal Ahnaf, “Aksi Bela Islam”, Akankah mengubah Lanskap Muslim Indonesia? dalam Jurnal Ma’arif. Vol. 11, No. 2 Desember 2016. Hlm. 30-41.

[4] M. Sulton Fatoni dan Wildan Fr., The Wisdom of Gus Dur: Butir-butir Kearifan Sang Waskita, (Depok : Imania. 2014), hlm. 18.

[5] Irwan Masduqi, Berislam secara Toleran: Teologi Kerukunan Umat Beragama. (Bandung: Mizan, 2011), hlm. 136.

[6] M. Sulton Fatoni dan Wildan Fr., The Wisdom of Gus Dur: Butir-butir Kearifan Sang Waskita, (Depok : Imania. 2014), hlm. 25.

Facebook Comments


(Next News) »



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *