Gelora Nasionalisme Syekh Nawawi Al Bantani di Tanah Rantau

Ahmad Fahrur Rozi
Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta
Afr2398@gmail.com

Bangsa dan negara merupakan tempat berbakti bagi segenap umatnya, indonesia sendiri mengilustrasikan bagsa dan negara sebagai ibu pertiwi. Layaknya sebagai orang tua, berbakti serta merawat bangsa bagaikan suatu kewajiban yang tidak bisa dinafikan dalam dinamika kehidupan manusia. Al Qur’an sendiri sampai mengabadikannya dalam surat Al Balad (negeri) dengan bentuk diksi sumpah Tuhan (Al Balad [90]; 1). Begitu pula dengan gagasan para founding fathers negeri ini, Bung Karno menuturkan nasioanalisme (kebangsaan) ialah suatu I’tikad bersama dalam bentuk satu cita-padu membentuk integritas umat nasional. (Zidni Nafi’, Menjadi Islam, Menjadi Indonesia, 2018). Melihat betapa pentingnya spirit nasionalisme yang harus diaktualisasikan dalam bentuk kehidupan umat sosial, terlebih kondisi multikultural masyarakat Indonesia.
Mayoritas para sarjana-sarjana negri menjabarkan betapa pentingnya menumbuhkan semangat kesadaran kebangsaan dalam benak umat, mayoritas mereka menghadirkan para tokoh-tokoh nasionalis negeri pertiwi sebagai wadah refleksi ideal morals yang mereka miliki dalam mengimplementasikan semangat kebangsaan, demi sebuah integritas yang solid di tengah-tengah kehidupan multikultural-kontemporer sekarang. Diantara mereka sering kali mengeksplorasi spirit tokoh-tokoh nasional seperti Ir Soekarno, Drs. Moh Hatta, KH. Hasyim Asy’ari, KH. Moh. Dahlan serta para tokoh-tokoh yang lain, baik mereka dengan latar belakang nasionalis atau para agamis (Ulama). Kiranya terdapat salah satu sosok yang jarang terekspos ditengah-tengah masyarakat, namun banyak memberikan kontribusi positif terhadap perjuangan bangsa dalam merebut hak dari tangan pemerintah kolonial. Ialah Syekh Nawawi al Bantani, putra bangsa yang berasal dari tanah jawa tepatnya daerah Banten.

Banten Tanah Kelahiran, Mekkah Tanah Persamayaman

Nawawi kecil lahir di daerah Tanara, Tirtayasa, Serang, Banten, tepat pada tahun 1813 M bertepatan dengan tahun 1230 H dari pasangan Umar bin Arabi dan Ibu Zubaedah, nama lengkapnya ialah Abu Abdul Mufti Muhammad Nawawi bin Umar bin Arabi (Khorul Anam ,dkk, Ensiklopedia NU, 2016). Namanya masyhur dikalangan umat dengan laqob Nawawi Al Bantani. Mengawali masa muda dengan balajar dan berinteraksi di tanah Nusantara kemudian menimba ilmu selama 3 tahun di tanah suci Mekkah, membuat Nawawi kecil tumbuh bekembang dengan produktif dan progersif. Setelah dirasa mumpuni ia banyak memberikan pelajaran bagi masyarakat sekitar, terutama ketika ia pertama kali kembali ke tanah air setelah beberapa tahun bermukim di tanah Arab. Semangatnya yang konstruktif dalam memandang masa depan membuat para penjajah khawatir akan kedatangannya dan segala macam bentuk aktivitasnya.
Nawawi al Bantani sangat tidak suka dengan sikap belanda yang pada waktu itu sangat superior sehingga dengan inisiatif-imajinatif ia mulai mendidik para warga pribumi akan pengetahuan, karena ia yakin dengan ilmu pengetahuan akan membalik keadaan suatu umat, dari yang tertindas menuju yang merdeka dan mandiri. Menyadari dengan gerak aktif Nawawi dalam menghimpun umat, Belanda memblokade segala macam bentuk kegiatan yang ia lakukan. Yang mana pada akhirnya ia memilih untuk hijrah kembali ke tanah suci untuk melanjutkan segala aktifitas yang ia kehendaki, seperti belajar, mengajar, dan juga menulis. Setelah kurang lebih mengabdi di tanah kelahiran selam 3 tahun Nawawi tidak kuat dengan desakan belanda yang berkolaborasi dengan sebagian warga pribumi dalam menghalangi dakwah Nawawi. Yang mana pada akhirnya ia kembali ke tanah perantauan Mekkah, sampai ia wafat dan disemayamkan di tanah haram Mekkah itu pula.

Hijrah yang Konstruktif dan Inovatif

Ketika Nawawi memilih untuk hijrah meninggalkan tanah Nusantara, banyak yang beranggapan bahwa Nawawi tidak kuat dengan kekangan Belanda dan terkesan kabur dari tanah kelahiran yang sedang dijajah kolonial. Di satu sisi secara dzahir Nawawi memilih untuk kembali ke tanah suci tidak lain karena ia merasa terkurung dengan adanya pembatasan gerak oleh pemerintah kolonial. Namun pada sisi yang lain hijrahnya Nawawi ke tanah suci untuk yang kedua kalinya telah melahirkan sebuah inisiatif positif dalam urusan membela dan merebut tanah air dari tangan penjajah. Nawawi berpikir untuk melawan penjajah tidak hanya dengan kekuatan fisik semata, akan tetapi juga dapat direalisasikan dengan perlawanan pemikiran dan gagasan. Lantas Nawawi kembali belajar dengan giat menekuni segala macam keilmuan hususnya dalam bidang agama. Dimana berkat ketekunannya tersebut, ia akhirnya dapat mentransformasikan ilmu-ilmu yang telah ia dapat kepada murid-muridnya.
Dari sekian banyak murid-murid yang berguru kepadanya, disitu pula terdapat para putra-putra bangsa yang datang ke tanah suci Mekkah untuk menuntut ilmu kepadanya. Maka dengan cara inilah Nawawi Al Bantani dapat mentrasfer dan mentransmisikan segala macam keilmuannya dan juga spirit nasioanlisme kepada murid-muridnya yang berasal dari Nusantara. Yang kelak menjadi tokoh-tokoh vital para pejuang bangsa, seperti KH. Hasyim Asyari (pendiri NU), KH. Ahmad Dahlan (Pendiri Muhammadiyah), KH. Syaikhana Khalil Bangkalan, Syekh Soleh Darat as Samarani, KH. Arsyad bin Thawal, K.H. Asnawi, dan K.H. Asryad bin Alwan. Ketiga tokoh terakhir merupakan para pejuang bangsa yang berperan penting dalam perjuangan melawan penjajah di tanah kelahiran Nawawi yakni tanah Banten. Hal ini tidak lepas dari usaha Nawawi tatkala ia berusaha menyampaikan dan menyalurkan spirit kebangsaan bagi para murid-muridnya, dengan harapan mereka dapat berperan aktif melawan bangsa kolonial. Dalam beberapa kali pertemuannya soeorang intelektual Barat Snouck Hugrounje berkesimpulan bahwa Syekh Nawawi adalah seorang ulama yang ilmunya dalam dan luas, punya kepribadian rendah hati, tidak congkak dan selalu bersedia berkorban demi kepentingan agama dan bangsa. (Maragustam, Pemikiran Pendidikan Nawawi, 2007).
Jadi begitu nampak perlawanan Nawawi terhadap kaum kolonial, dengan lebih memaksimalkan daya pikirnya (keilmuannya) dalam membasmi para penjajah bangsa, dibandingkan dengan kontak fisik ataupun senjata. Nawawi juga berhasil membentuk suatu koloni jawi di Mekkah yakni suatu komunitas muda-mudi Nusantara yang sedang menuntut ilmu bersamanya di tanah Arab, dengan koloni ini Nawawi dapat menanamkan jiwa patrionalisme dan nasionalisme dalam melawan menjajah kolonial baik di Banten atau di Nusantara. Organisasi ini menjadi representasi dari peran Nawawi dalam upaya menghimpun golongan Nusantara yang sependeritaan dan seperjuangan dalam memberantas wabah kolonialisme. Adanya arus transmisi keilmuan yang disertai dengan spirit-spirit kebangsaan (nasionalisme) pada akhirnya mengundang kekhawatiran di kubu belanda. Sehingga pada akhir abad 19 belanda memberlakukan sebuah kebijakan yakni memperketat serta membatasi perizinan masyarkat pribumi yang hendak pergi ke tanah Arab, baik mereka yang ingin belajar kepada para tokoh-tokoh Nusantara di tanah Haram, mereka yang ingin melakukan ibadah haji, atau mereka yang hanya sekedar hendak berniaga ke tanah Arab. Hal ini ditakutkan akan menjadi suatu sumber kekuatan yang dapat menggulingkan eksistensi pihak kolonial.

Eksistensi Spirit Nasionalisme di Tanah Rantau

Spirit nasionalisme dan patrioalisme telah tertanam dalam jiwa Nawawi sejak ia masih berada di tanah pertiwi hingga ia memilih bermukim di negri orang. Tercatat Nawawi sendiri tidak pernah melakukan tindakan kooperatif dengan pihak penjajah bahkan ia sangat menentang pendudukan penjajah di bumi Nusantara. Meskipun ia berada jauh di negri sebrang gelora patriotisme dan nasionalisme tak pernah ia abaikan. Dengan selalu menyebarkan gagasan konstruktif Nawawi mengajak segenap umat bangsa untuk bahu-membahu bangun dari ketertinggalan yang selama ini telah melanda peradaban negri Nusantara. Ejawantah akan hal ini ialah keterbukaan (iklusifme) dan juga cinta akan pembaharuan serta penerimaan terhadap pluralisme agama dan bangsa yang telah diaktualisasikan oleh Nawawi dalam kehidupannya. Yang tidak kalah menarik ialah Nawawi tidak gampang terpeangaruh oleh sesuatu, hal ini dapat dimanifestasikan dengan sikap Nawawi yang tetap berusaha melestarikan kultur keislaman Nusantara meskipun ia hidup dalam konteks masyrakat Arab yang cenderung salafi. Nawawi al Bantani tidak terpengaruh dengan munculnya gerakan Wahabisme, yang pada waktu itu merajalela di tengah-tengah kehidupan banga Arab. Sehingga eksistensi kultur keislaman Indonesia tetap ia gennggam yakni islam yang inklusif, moderat, plural, dan juga toleran dalam menyikapi keadaan bangsa yang multikultural.

Facebook Comments


(Next News) »



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *