Dilema Dinamisasi Dan Modernisasi Pesantren

Oleh: Muhammad Zidni Nafi’

Apabila ada paradigma beranggapan bahwa pesantren adalah lembaga pendidikan tradisional yang jauh dari kata modern dan menolak yang namanya globalisasi, tidak bisa paradigma tersebut langsung saja disalahkan. Karena memang dahulu pesantren lahir dari karakteristik yang bisa dikatakan ‘sederhana’. Sehingga masih banyak kalangan yang menilai pesantren merupakan lembaga pendidikan yang primitif. Walaupun sekarang ini dapat diamati tidak sedikit pesantren yang lahir ataupun bermetamorfosis menjadi pesantren yang modern bahkan bertaraf internasional. Hanya saja, transformasi pesantren belum banyak didengar publik secara luas.

Terlepas dari pro-kontra karakteristik pesantren, yang jelas kini pesantren mulai melakukan dinamisasi menyesuaikan zaman yang semakin modern, mulai dari aspek kurikulum, metode pembelajaran, tradisi, fasilitas, prospek, dan lain sebagainya. Fenomena ini perlu disambut hangat. Disamping untuk menepis paradigma-paradigma negatif tentang pesantren, tentu langkah ‘baik’ ini untuk meningkatkan peran pesantren dalam rangka mendidik anak bangsa supaya cerdas keagamaannya sekaligus terampil dalam modernisasi. Karier lembaga-lembaga pesantren di Indonesia pada saat ini sedang mengalami perubahan-perubahan yang fundamental dan juga turut pula memainkan peranan dalam proses transformasi kehidupan modern di Indonesia.

Tradisi pesantren sebagai penerus tradisi peradaban Melayu Nusantara memiliki dasar pandangan keagamaan yang mudah dipadukan dengan modernitas. Cepatnya aspek modernitas terpadu dalam tradisi pesantren terbukti pada kenyataan bahwa 70 persen lembaga pendidikan pesantren telah mengembangkan lembaga-lembaga dan sebagian mendirikan perguruan tinggi modern. Namun, sumber-sumber kekuatan para kyai untuk dapat mencapai target standar modernitas yang maju dalam pendidikan masih terbatas (Zamakhsyari Dhofier, 2011: 256). Untuk menopang langkah-langkah tersebut. Tentunya memerlukan peran serta dari berbagai pihak, terutama para kyai dan santri sebagai tokoh utama dalam proses praktikum lembaga pesantren.

Pergerakan Kyai dan Santri: Dulu, Kini dan Nanti

Cikal bakal pesantren dilepas dari peran Walisanga, kemudian dilanjutkan oleh para kyai khususnya pada abad ke-18, seperti Syekh Ahmad Khatib Sambas, Syekh Nawawi Banten, Syekh Abdul Karim, Syekh Mahfudh at-Tarmisi. Beliau-beliau merupakan putra bangsa yang cerdas sehingga mereka pada masanya didaulat untuk mengajar di Mekah. Memasuki abad ke-20, dari para kyai tersebut kemudian diregenarasi oleh murid-muridnya seperti Kyai Khalil Bangkalan, Hadratus Syekh Hasyim Asy’ari yang mempunyai jaringan ulama hingga Timur-Tengah dan Afrika, sehingga atas kontribusi beliau dan kyai lainnya, dapat membatalkan usaha Raja Saud untuk menghancurkan situs-situs peninggalan peradaban Islam yang dianggap sumber kemusyrikan. Hingga kemerdekaan Indonesia tidak luput dari kontribusi kyai, seperti yang sudah masyhur yakni K.H. Wahid Hasyim yang sempat menjadi anggota BPUPKI dan Tim Sembilan. Terlebih menjadi Presiden RI pernah disandang oleh putra K.H. Wahid Hasyim, yakni K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Bagaimana dengan kyai lainnya? Pada umumnya, kyai pesantren dengan segala karakteristiknya seperti tawadhu’, wara’, memang hanya terfokus untuk mengasuh santrinya di pesantren masing-masing. Sehingga timbullah paradigma negatif, bahwa kyai pesantren tidak pantas untuk terjun bidang selain keagamaan. Padahal saat ini realitasnya kan tidak seperti itu, justru kini banyak kyai yang tidak hanya terjun di dunia dakwah, namun sudah merambah ke dunia hukum negara, bisnis, budaya hingga politik.

Demikian pula santri. Sosok yang kaum sarungan ini seringkali dilihat sebelah mata oleh beberapa kalangan. Tradisi dan penampilannya yang dianggap eksklusif, jadul, norak, kuno, jumud, nyleneh, nggak gaul, lebih sadisnya tidak layak hidup di dunia modern. Itu hanya asumsi-asumsi dari kalangan yang belum mengetahui seluk beluk kehidupan santri secara universal. Sekali lagi, asumsi itu tentu juga berdasarkan fakta dilapangan, karena sebelum derasnya arus globalisasi, kehidupan santri memang penuh dengan kesederhanaan serta menjaga jarak dengan modernitas. Sehingga santri disebut juga sebagai kaum yang statis.

Dinamisasi

Dinamisasi, pada dasarnya mencakup dua proses, yaitu menggalakkan kembali nilai-nilai tradisi positif yang telah ada, selain mencakup pula pergantian nilai-nilai lama itu dengan nilai-nilai baru yang dianggap lebih sempurna. Proses pergantian nilai itu dinamai “modernisasi” (Abdurrahman Wahid, 2010: 53). Untuk mengemukakan suatu konsep yang relevan bagi kebutuhan pesantren saat ini, tentu terlebih dahulu mengetahui garis besar situasi yang dihadapi pesantren dewasa ini, seperti yang dikemukakan oleh Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dalam bukunya yang berjudul ‘Menggerakkan Tradisi’:

Pertama, kesadaran akan sedikitnya kemampuan untuk mengatasi masalah-masalah yang dihadapi oleh pesantren, terutama tantangan kemajuan yang diajukan oleh teknologi yang sudah enyam bangsa kita. Kedua, statis atau bekunya struktur sarana-sarana yang hadapi pesantren pada umumnya. Baik sarana yang berupa manajemen/pimpinan yang terampil maupun sarana materiil (termasuk keuangan) masih berada pada kuantitas yang sangat terbatas. Keterbatasan sarana-sarana itu membawa akibat tidak mungkin dilakukan penanganan kesulitan yang dihadapi secara integral. Ketiga, sulitnya mengajak masyarakat tradisional yang berafiliasi pada pesantren ke arah sikap hidup yang lebih serasi dengan kebutuhan-kebutuhan nyata pesantren. Padahal pesantren sendiri tidak akan mungkin melakukan kegiatan yang berarti tanpa dukungan dan bantuan masyarakat, dalam keadaan yang sekarang ini.

Lembaga pesantren yang masih mengkhususkan pendidikan agama dan pengkajian kitab-kitab karangan ulama zaman klasik memang masih banyak, sekitar 30 persen dari 21.521 pesantren. Kederadaan pesantren yang mengkhususkan pengakajian kitab-kitab klasik tersebut pantas dihargai karena pengkajian kitab-kitab klasik tetap penting agar perpaduan tradisi dan modernitas menemukan ramuan yang seimbang dalm pembangunan peradaban manusia yang modern.

Tradisi pesantren sebagai ujung tombak pembangunan Peradaban Melayu Nusantara antara abad ke-15 sampai abad ke-18 menjadikan mayoritas penduduk Melayu Nusantara memasuki millenium ketiga ini sebagai penduduk muslim terbesar di dunia dalam kondisi himogenitas pandangan hidup keagamaan yang tinggi. Pada perempat pertama abad ke-20 reformasi Islam melahirkan dua kelompok aliran Islam: “modernisme” dan “tradisionalisme” yang merugikan kehidupan sosial, ekonomi, intelektualisme dan keagamaan Islam. Dua aliran pemikiran itu sempat menimbulkan konflik keagamaan Islam yang cukup memanas (Zamakhsyari Dhofier, 2011: 256).

Meskipun menimbulkan kontroversi dikalangan internal pesantren itu sendiri, namun pada dasarnya tujuan modernisasi tidak jauh kecuali untuk meningkatkan eksistensi pesantren. Barangkali modernisasi pesantren tidak lepas dari berkembangnya pemikiran para kyai muda yang mencoba mewacanakan romantisme pesantren dan modernitas. Sesuai jargon para intelektual muslim yang sekarang dijadikan landasan modernisasi intelektual Islam:

المحافظة على قديم الصالح :: والأخذ بالجديد الأصلح

Menjaga tradisi lama yang baik, dan mengambil tradisi baru yang lebih baik.

Masa Depan Pesantren

Zamakhsari Dhofier (2011) seorang peneliti pesantren dalam buku Tradisi Pesantrenmya, mengungkapkan bahwa usaha untuk meramalkan wajah, bentuk, da nisi lembaga-lembaga pesantren di masa depan sangat dipermudah oleh beberapa perkembangan:

  • Dengan bertambahnya jumlah lembaga menjadi hampir 30.000 maka pesantren dapat melakukan variasi perubahan lebih lelluasa, dari yang paling kuat bertumpu kepada tradisi sampai kepada yang dapat memadu modernitas pendidikan seluas dan setinggi mungkin.
  • Sikap semakin lapang dalam penyelenggaraan modernisasi pesantren di tengah-tengah perubahan masyarakat Indonesia yang sangat cepat. Mereka juga tidak dihambat oleh perdebatan pro atau kontra untuk mempertahankan aspek-aspek positif sistem pendidikan Islam. Tekanan telah mengarah kepada upaya menyantuni kebutuhan yang bermanfaat bagi umat Islam.
  • Keyakinan bahwa perubahan-perubahan harus diselenggarakan tanpa merusak aspek-aspek positif kehidupan perdesaan dimungkinkan oleh perkembangan teknologi serta semakin tersedianya sumber-sumber daya pendidikan melalui internet.
  • Semakin bersedianya tenaga-tenaga akademik untuk pengembangan pendidikan tinggi wilayah perdesaan.
  • Pengaruh kepemimpinan dan dukungan masyarakat menguat pada periode memasuki millennium ketiga.
  • Semakin kuat tuntutan masyarakat perdesaan untuk memperoleh haknya dalam memperoleh fasilitas pendidikan tinggi.
  • Tuntutan pelaksanaan demokrasi yang adil, jujur, dan transparan semakin kuat.

Sekalipun demikian, lebih dari sekadar peningkatan ketaatan kepada simbol-simbol agama, fenomena tersebut secara simbolis kultural, menunjukkan bahwa kalangan santri terpelajar telah menjadi sebuah kekuatan baru kelas menengah muslim (Moeflich Hasbullah, 2012: 94).

Trend: Ayo! Mondok

Di tengah pasang surut dan orientasi pesantren yang terkadang “dipaksa” untuk memenuhi kebutuhan dan permintaan ‘pasar’ (baca: masyarakat) perihal kualitas jebolan pesantren dalam persaingan perekonomian yang lebih dari ketat. Apalagi sebagian masyarakat yang kini sudah cenderung menggejala ‘pendidikan pragmatis’ dengan semboyan “pendidikan apa yang mudah mendapatkan pekerjaan”.

Tuntunan ini yang membuat pesantren mencoba untuk tidak terbawa arus permintaan pasar. Justru, pesantren kini mulai menjelma kembali dengan tagline yang menarik, yakni munculnya gerakan nasional “Ayo! Mondok, Pesantrenku Keren” yang dipelopori oleh Rabitah Ma’hadil Islamy (RMI), lembaga di bawah naungan Pimpinan Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yang fokus di bidang pesantren. Gerakan yang di-launching pada tanggal 1 Juni oleh ketua PBNU itu hendak menampilkan bagaimana pesantren sekarang menjelma menjadi ‘pesantren keren’. Maksudnya, image pesantren yang dahulu dipandang kumuh, kuno, kini diperlihatkan lagi dengan wajah baru.

Namun, yang lebih ditekankan adalah bagaimana generasi muda sekarang diajak untuk kembali “mengaji” ke pesantren. Dengan berbagai keunggulan khazanah keilmuan yang dimiliki pesantren, serta di tengah kemajuan teknologi yang membawa arah belajar secara otodidak dan praktis, generasi muda diharapkan mampu memahami berbagai ilmu pengetahuan secara konprehensif, khususnya dalam bidang keislaman.

Meskipun demikian, gerakan nasional “Ayo! Mondok” yang sudah sedemikian massif ini jangan sampai habis ditelan momentum saja, tanpa ada tindak lanjut yang intensif dari berbagai pihak yang berkaitan dengan pondok pesantren.

Dampaknya?

Konsekuensinya, jangan disalahkan ketika dinamisasi pesantren yang satu sama lain berbeda, ibarat bumi dan langit, disatu sisi ada pesantren yang sudah menerapkan sistem yang modern, seperti halnya pengajian kitab digital, pesantren berbasis sains, menyediakan hotspot area, tidak dilarang membawa gadget, asrama yang mewah sehingga santri tidur diranjang masing-masing. Di sisi lain, masih ada pesantren yang masih menerapkan sistem tradisional agar orisinalitas tradisi pesantren tetap terjaga; mungkin apatis terhadap modernisasi, lalu hanya ngaji kitab-kitab kuning saja, steril dari elektronik, mengharamkan mengakses internet, anti produk Barat, asrama yang kecil, sehingga puluhan para santri berdesak-desakan untuk menghuni satu kamar. Ini hanya sempel kecil dilema yang dialami oleh pesantren dewasa ini.

Dengan demikian, proses dinamisasi dan modernisasi pesantren bukanlah keharusan yang mutlak. Karena masing-masing pesantren punya idelisme sendiri, tidak serta merta larut dalam hegemoni globalisasi. Pun dengan pesantren modern yang mencoba mengejar ketertinggalan dengan cara menerapkan sistem dan fasilitas yang canggih dan modern, namun tidak juga meninggalkan tradisi lama yang baik. Inilah kekayaan khazanah pendidikan Islam asli Indonesia. Wallahu A’lam.

 

*) Muhammad Zidni Nafi’, santri alumni Ma’had Qudsiyyah Kudus, ketua CSSMoRA UIN Sunan Gunung Djati Bandung periode 2013-2014, Koordinator Kominfo CSSMoRA Nasional periode 2015-2016, Koordinator Jaringan Mahasiswa Lintas Agama (Jarilima) kota Bandung 2015.

Facebook Comments





Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *