DARI SANTRI UNTUK NEGERI

Oleh: Dzikrul Hakim Tafuzi Muiz

(CSSMoRA UIN Malang 2017, Kader LENSA)

Pertanyaan yang polos dan terkesan lugu sering terlintas dalam benak seorang santri yang berkontrak ngabdi ke pondoknya setelah lulus kuliah: Apa manfaatnya mengabdi itu? Atau mungkin mengabdi hanya untuk kepentingan pondok dengan memanfaatkan tenaga kita? Akankah umur kita terbuang percuma dengan mengabdi tanpa menghasilkan apa-apa? Bahkan pernyataan yang lumayan ekstrim bagi kaum jomblo: Mengabdi itu memperlambat pernikahan santri!

Kehidupan seorang santri yang mengabdi untuk pondok maupun masyarakat secara luas tidak akan terjadi yang namanya rizki macet, karena dengan ngabdinya seorang santri itu akan menambah wawasan dan pengetahuan yang belum ia dapatkan, baik di bangku perkuliahan maupun tempat selain masyarakat. Pengabdian tidaklah harus mengucurkan materi yang sebanyak-banyaknya, tetapi bisa berupa sumbangan tenaga, pikiran, dan waktu untuk kemaslahatan lingkungan sekitar.

Masyarakat sebagai objek utama pengabdian seorang santri haruslah dipandang sebagai ladang subur bercocok tanam biji-biji pahala sebagai bekal di akhirat kelak. Dengan berbagai cara pengabdian yang bisa dipilih oleh seorang santri tentu dapat menjadi peluang yang tak ternilai harganya. Salah satu contoh pengabdian seorang santri adalah mengajar mengaji anak-anak maupun para pemuda yang dewasa ini masih banyak yang belum bisa membaca al-Qur’an dengan baik dan benar.

Sudah banyak para santri yang menorehkan tinta pengabdiannya di kancah nasional maupun internasinal. KH. Abdurrahman Wahid yang akrab dipanggil Gus Dur merupakan salah satu contoh santri Pondok Pesantren Tebuireng yang mengabdi di wilayah internasional sehingga bisa menjaga keutuhan Indonesia di tengah-tengah masa krisis moneter akibat era orde baru. Menteri Pemuda dan Olah Raga (Menpora), Imam Nahrowi, juga merupakan seorang santri dari Pondok Pesantren Sidogiri. Dan masih banyak contoh lainnya yang tidak mungkin disebutkan satu persatu dalam tulisan singkat ini.

Mengabdi adalah momen yang bagus bagi seorang santri untuk mengamalkan ilmu yang telah ia dapatkan. Berprinsip pada sebuah petuah bijak arab yang terjemahannya berbunyi “Ilmu yang tidak diamalkan, seperti pohon yang tak berbuah” seorang santri akan senantiasa mengamalkan ilmunya secara berkesinambungan demi mendapatkan buah kenikmatan dari pohon ilmu. Nikmat yang dirasakan seorang santri dari pengabdiannya itu tak bisa diilustrasikan oleh orang lain kecuali si pengabdi itu sendiri.

Lokasi pengabdian yang digeluti oleh santri yang merasa belum siap atau merasa belum pantas untuk terjun ke masyarakat adalah pondok pesantren tempat ia mondok. Karena pondok pesantren yang disebut sebagai miniatur masyarakat bisa menjadi tempat yang cocok untuk proses pra-mengabdi seorang santri sebelum terjun ke pengabdian langsung di masyarakat secara luas.

Ungkapan “Ayo Mondok” yang sekarang masih booming diberbagai media sosial secara tidak langsung mengajak semua warga Indonesia agar memondokkan buah hatinya di sebuah lembaga keagamaan yang disebut pesantren. Karena pesantren merupakan lembaga yang mengajarkan peserta didiknya untuk menjadi insan yang siap mengabdikan diri kepada bangsa dan agama. Jati diri seorang santri bukan hanya untuk menuntut ilmu yang sebanyak-banyaknya, tetapi harus ada langkah lebih lanjut dari pendapatan ilmu tersebut. Pengamalan ilmu dalam pengabdian akan menjadi langkah awal mengaplikasikan ilmu seorang santri sebelum ia masuk ke dunianya masyarakat yang tentunya lebih banyak dan lebih complex permasalahannya.

Di akhir tulisan ini penulis mengajak para pembaca yang budiman untuk merenungi kata-kata mutiara dari Kyai Muhammad Hasyim Asy’ari pendiri Pondok Pesantren Tebuireng dalam kitab at-Tibyan Fi an-Nahyi al-Muqothoati al-Arham wa al-Aqorib wa al-Ikhwan:

Bekerja dan berjuang bukan karena kedudukan, pengaruh ataupun kekayaan, tidak pula karena mengharap pujian dan sanjungan, melainkan semua itu dilakukan demi kepentingan agama dan masyarakat

Facebook Comments





Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *