Cinta Dalam Doa

CINTA DALAM DOA

Oleh: Hafiya Windri Rikit

Aku melemparkan ransel yang berisikan buku fisiologi anatomi yang tebalnya melebihi kitab suci tersebut keatas meja belajarku. Hari yang sangat melelahkan untuk seorang mahasiswa semester pertama yang masih melakukan tahap orientasi dengan kegiatan yang sangat menyibukkan bagi seorang mahasiswa jurusan kedokteran sepertiku. Tetapi kesibukan yang mengalihkan perhatianku dari berbagai hal tersebut gagal mengalihkan ingatan ku tentang seseorang yang aku kagumi dan perjuangkan secara diam diam. Untuk perempuan yang masih malu untuk mengungkapkan perasaan sepertiku hanya bisa memperhatikan nya secara diam diam. Aku hanya mampu meminta kepada pemiliknya untuk menghadiahkannya kepadaku, jika memang dia pantas bersamaku. Aku hanya mampu meminta kepada pemiliknya untuk senantiasa memberikan kebahagiaan dan kemudahan di setiap menit dalam hidupnya. Aku hanya mampu melakukan itu, apakah masih banyak diluar sana perempuan sepertiku? Tentu, aku merasa bahagia dalam doaku bersamanya. Aku hania.

Mataku terpejam sambil mendoakan kelelahan yang aku alami agar tidak dialaminya. Razi, itulah nama dari seseoramng yang membuatku tidak melihat jutaan bahkan ribuan laki laki diluar sana. Mataku kembali terbuka setelah mendengarkan keributan dari luar kamarku.

“Astaghfirullah teman teman ku yang cantiknya mengalahkan artis korea, kalian mau buat ni rumah kaya kapal pecah apa?”. Kataku setelah keluar dan melihat kondisi dapur yang berantakan.

“hahaha, lu tidur aja hania beutipul, lu kan capek pulang kuliah, tidur sono!, tenang aja entar kita beresin kok. Kita mau masak seblak, lu mau?” tanya Harum yang sedang menyiapkan wajan diatas kompor. Aku mengagguk tersenyum mendengar tawarannya.

“Udah buruan masuk!” sambung Alma tanpa melihatku. Aku kembali ke kamarku dan tidak mau ambil pusing tertang eksperimen mereka. Kedua sahabatku yang sangat menyayangiku dan mengerti keadaanku tanpa menggangu urusan pribdiku termasuk masalah perasaanku pada Razi, seorang teman sekaligus partner kerjaku saat menjabat menjadi kabid pendidikan di organisasi santri di pondokku. Yang membuatku tidak dapat melupakan nya adalah sifat humorisnya yang mampu membuat orang disekelilngnya menjadi bahagia, termasuk aku. Wajah tampan nya dan selalu berpakaian rapi membuatnya terlihat,awesome. Tetapi, bukan seorang perempuan lain yang memisahkan kami atau sebuah peraturan yang melarang. Namun, jarak yang terlalu jauh, seakan tidak pernah terbayang hal ini terjadi begitu cepat. Jarak yang tidak mampu di tempuh menggunakan kendaraan apapun, pemiliknya telah mengambil miliknya kembali. Dia telah meninggal. Jarak yang terlalu jauh bukan? Namun kenapa aku mendoakan nya seolah olah dia masih hidup? Apakah aku sudah gila? Tidak, aku masih waras tapi aku terlalu merasakan sakit saat harus kehilangan nya secepat ini. Aku tidak sakit secara psikis maupun fisik, tapi aku sakit secara rohani, bahkan sangat sakit.

“ini seblak apa kolak? Kok manis gini sih?” komentarku setelah memakan sesendok seblak hasil eksperimen Alma dan Harum.

“hehe, udah nikmati aja,lu kaya gak ngerti aja, kiat kan baru belajar han”.-Harum

“tapi gak gini jugak kali cuy rasanya, lu mau bunuh gua yaa? Jangan jangan lu naburin sianida lagi biar gua cepat mati”-Aku

“iya, gua naburin sianida setengah kilo biar lu cepet mati!, gua heran sama kampus lu, siapa sih yang lulusin cewek gajelas kaya lu masuk kedokteran lagi”-Harum

Aku tersenyum kecil “ocehan lu panjang banget ruuum, pingin gua catet omelan lu tiap hari trus gua jadiin buku yang judulnya’ocehan singkat bersama mama Harum’, gua yakin gak ada yang beli”.ledekku.

“Pediss banget han kata kata lu, mati aja sono nyusul Razi, biar berkurang orang sinting di dunia ini, haha”-Alma

Jleb

Aku terdiam, menatap lekat Alma yang membawa nama Razi dalam perbincangan kami. Aku tersinggung? Jelas, Harum yang melihat perubahan ekspresiku menyikut Alma yang tidak melihatku saat mengatakan hal yang sangat sensitif,menurutku. Alma yang baru menyadari kesalahan nya terbelak dan menutup kedua mulutnya menggunakan telapak tangannya.Kesalahannya? Tidak, dia hanya bercanda saat mengatakan nya, tapi kenapa aku marah dan menunjukkan kemarahanku kepada mereka? Tidak, bukan itu yang jadi permasalahan nya. Kenapa mereka merasa bersalah? Apa mereka sudah mengetahui sesuatu yang sangat aku rahasiakan? Kurasa benar, mereka mengetahuinya tanpa harus kuberi tahu. Aku meninggalkan mereka berdua yang masih terdiam dan menatap kepergianku.

***

 

MEI 2015

(Razi pov)

“Za, kalo ntar gua gak diizinin hidup lama, gua mau minta tolong bisa kagak?”-Razi

“gak!”-Reza

“lu tegaan bener jadi sodara, jangan cuek gitu dong bray, gue Cuma minta lu cari tau yang namanya Hania Azurra, dia temen gua sepondok, partner kerja gua di OSIS, gua belum sempat ngenalin lo ke dia, dia cocok banget deh kayanya sama lo, baik, kalem kalem gak jelas gitu. Gua gak nyuruh lu pacaran, pdkt aja hehe.”-Razi

“Kalo mau gila gausah ngajak ngajak gua”-Reza

“Ya Allah, kok kembaran gua songong banget ya, cobaan apa ini ya Allah”-Razi

“Shalat sono!”-Reza

“Nyebelin banget lu ya!” ocehku sambil meninggalkan nya. Dia hanya tersenyum penuh kemenangan.Reza, saudara kandungku yang lahir 5 menit lebih awal dariku. Kami adalah kembaran yang memiliki karakter sangat berbanding terbalik. Tapi aku sangat beruntung memiliki nya yang berfikiran lebih dewasa, aku hanya mampu mendoakan yang terbaik untuknya. Setelah selesai shalat, aku menadahkan kedua tanganku,meminta dalam hati kepada sang pencipta.

“Ya rahman, berilah aku kekutan untuk menghadapi penyakit ini, berilah aku kekuatan untuk tidak mengeluh dengan semua ini, berilah kekutan untuk orang orang disekelilingku,hadiahkanlah kebahagian disetiap langkah kaki mereka.Ya Allah, lindungilah perempuan lemah itu, kuatkan lah hatinya yang lemah dalam menghadapi cobaan, pertemukalah dia dengan pilihan terbaikmu ya Rabb, hadiahkanlah rasa sayangku untuknya kepada orang yang berada disekelilingnya. Ya Allah, biarkan Reza menggantikan posisiku dihati orang orang yang kusayangi, hanya dia. Biarkanlah mereka melupakanku jika memang takdirmu berkata aku harus lebih dulu pergi. Ya Allah, jagalah keluargaku, teman temanku, orang orang disekelilingku, dan perempuan itu ya Allah,Hania. Amin.”- pinta Razi.

***

SEPTEMBER 2017

(Reza pov)

“Permisi mbak, kenal Hania Azurra gak? Mahasiswi baru jurusan kedokteran” tanyaku pada seorang mahasiswi yang kurasa dia juga mahasiswi baru,melihat dari penampilan nya yang masih natural. Aku memutuskan untuk mencari Hania AzurrA. Setelah Razi meninggal karena penyakit ISPA yang dideritanya,hanya Razi dan kedua orangtua ku yang mengetahuinya, hal itu membuatku kesal dan merasa bersalah. Aku seharusnya lebih peduli kepadanya, sekarang aku akan mencoba peduli kepada permintaan gilanya. Mencari Hania Azuraa. Tetapi orang yang kutanyai ini hanya diam menatapku, sinting ni orang.

“Tau gak?” tanyaku lagi. Dia masih diam,dan menatapku lekat. Kayanya aku salah orang buat ditanyain.Aku berbalik untuk melihat adakah orang yang bisa kutanya. Kuharap tidak sesinting perempuan ini.

“Razi” katanya pelan. Spontan aku berbalik kembali menghadapnya.

“Aku Hania”- Hania

“Ada perlu apa kamu mencariku?”- Hania

“Perkenalkan, aku Ahmad Reza bukan Muhammad Razi.”-Aku

“Apakah kamu punya waktu sebentar untuk makan? Perutku sedikit merasa lapar setelah keliling kampus mencarimu” ajakku, dia hanya diam dan tak melepaskan pandangan nya dariku.membuatku sedikit merasa,risih.

“Kamu tidak perlu takut, aku memang tidak sebaik Razi, tapi aku juga dibesarkan oleh keluarga yang sama dengan nya, jadi kamu tidak perlu ragu,dan aku harap kamu bisa melepaskan pandanganmu dari wajah tampanku, itu membuatku sedikit risih.” Jelasku. Pipinya seketika memerah, blushing. Aku tersenyum tipis, dia mengangguk pelan.

“Kamu punya hp?” kataku setelah makananku habis. Dari tadi kami hanya diam sambil menghabiskan makanan masing masing, dia tidak bertanya apapun tapi aku bisa melihat tanda tanya besar di wajahnya, namun dia terlalu malu untuk mengungkapkan nya. Dia mengangguk.

“Minjem dong”-Aku

“Untuk apa?” katanya sambil mengeluarkan hpnya dan memberikan nya padaku. Aku hanya tersenyum dan mengambil hpnya.

“Sandinya?”- Aku

“230799”- Hania

“Kamu begitu menyukainya”- Aku

“Apa karena itu tanggal lahir razi membuktikan kalo aku terlalu menyukainya”-Hania

“jelas”-Aku

“Menurutku tidak”- Hania

Aku tersenyum tipis, aku langsung memasukkan nomor wa ku menjadi kontaknya, menginvite id lineku dan memfollow instagramku menggunakan akun nya. Selesai, aku mengembalikan hpnya.

“Apa yang kamu lakukan dengan hpku?”- Hania

“Kamu bisa menggap itu tanggal lahirku”- Aku

“Kamu mengingatkan ku padanya”- Hania

“Kamu bahkan selalu mengingatnya tanpa perlu aku ingatkan”- Aku

“Mulai sekarang selipkan namaku di dalam doamu, kamu hanya perlu mengganti nama Razi menjadi Reza dan jangan terlalu menyakiti dirimu karena kepergian nya, dia hanya lebih dulu diambil oleh pemiliknya, jadi ikhlaskan saja dia”- Aku

“Maksudmu apa?”- Hania

“Mahasiswi kedokteran sepertimu tidak mengerti maksud dari kalimat sederhana yang kuucapkan? Apakah kampus ini terlalu lengah pada tahap penyeleksian sehingga orang sepertimu bisa lulus? Kamu bisa mengerti isi dari buku fisiologi anatomi, jadi jangan berpura pura tidak mengerti dengan perkataanku”- Aku

“sinting lu ya!”- Hania

“Haha,akhirnya bisa santai juga gua ngomong sama lu, gua gak sinting, Cuma mastiin aja lu masih tahan gak ngomong aku-kamu  kaya tadi”

“gua gak tahan, apalagi sama manusia gak jelas kaya lu”- Hania

“kamu harus tahan, karena aku akan memulainya dari sekarang, mau gak mau kamu harus seperti ini, kamu mengerti kan maksudku? Aku bukan Muhammad Razi yang senang menjelaskan, aku Ahmad Reza yang lebih senang jika kamu mengetahinya tanpa perlu kujelaskan, karena aku terlalu malu untuk menjelaskannya, kamu tidak perlu malu untuk mengerti, dan jika kamu sudah mengerti, selipkan aku di dalam doamu”-Aku

Dia tersenyum tipis dan mengangguk.

***

JANUARI 2018

Aku berjalan keluar dari gedung kampus dan sedikit berlari menembus rintikan hujan. Gedung dan gerbang kampus sedikit jauh, sehingga membasahi pakaianku, membuat tubuhku sedikit merasakan dingin. Aku berteduh di pos satpam karena rintikan hujan sudah berubah menjadi guyuran hujan,dan semakin deras. Allahumma shoyyiban naafi`an. Aku menikmati salah satu nikmat Allah SWT ini, walaupun tubuhku kedinginan tetapi hatiku hangat karena aku masih diberikan waktu untuk menikmati keindahan dunia ini. Aku menoleh melihat seseorang yang memakaikan jaket ke tubuhku.Reza.

“Kok kamu gak angkat telpon aku sih, gausah cari perhatian gitu deh pake acara buat aku khawatir”- Reza

“Hp ku mati, lagian siapa juga yang mau caper sama kamu”-Aku

“Iya sih, tanpa kamu caper, aku juga perhatian sama kamu kan?”-Reza

Aku tersenyum melihat wajahnya yang basah. Saat dia kedinginan,dia mampu memberikan kehangatan nya kepada orang disekelilingnya.

“Tiba-tiba aku melayang za” – Aku

“Hahaha, jangan dong, ntar aku nungguin hujan nya reda sama siapa?”-Reza

Aku kembali tersenyum mendengar pertanyaan nya. Ahmad Reza, laki laki yang menjadi temanku setelah pertemuanku dengan nya 4 bulan yang lalu. Karakternya yang aneh membuatnya menjadi istimewa. Aku tidak menghapus nama Razi dari doaku, tetapi aku menambahkan nama Reza sebagai pelengkap dari doaku. Aku kembali menatap kedepan, mengalihkan pandanganku dari wajah tampan yang menunggu jawabanku. Aku menutup mataku menikmati suasana ini.

“ Ya Allah, Aku bahagia bersamanya”-pinta Hania

“ Ya Allah, bahagiakan Aku dan Dia”-pinta Reza

END

 

Cerpen ini ditulis oleh Hafiya Windri Rikit,

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta              

Facebook Comments


(Next News) »



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *