Bunda, Izinkan Aku Mati

Pukulan tepat di pipi kirinya mungkin sudah yang ketiga kalinya. Tamparan itu membuat pipinya memar untuk kesekian kalinya hari ini, kemarin, bahkan bisa jadi esok. Kirana namanya. Si mungil cantik dengan pipi yang melesung ketika ia tersenyum. Si mungil cantik yang setiap hari menerima tamparan di pipi kiri dan kanan dari seseorang yang sangat ia sayangi, ia memanggilnya bunda.

Ketika bangun tidur, sebuah tamparan mendarat. Sebelum sarapan, sebuah tamparan berlabuh. Sepulang sekolah, sebuah tamparan menempel di pipinya. Bahkan ketika bekas tamparan tadi pagi belum hilang, tamparan lain sudah menyusul. Bahkan bisa jadi, sarapan yang ia makan tadi bukan sarapan semestinya, tetapi sebuah tamparan.

“Bunda, kenapa engkau suka sekali menampar Kirana?” tanya Kirana memberanikan diri. Pertanyaan itu muncul setelah puluhan tamparan di pipinya. Bahkan memar di pipinya menjadi memar abadi.

“Jangan memanggilku bunda! Aku bukan bundamu! Anak Iblis!”

***

Bunda teringat malam itu. Malam ketika ia berjalan sendiri melalui tengah desa. Malam ketika ia menjadi wanita paling kotor di muka bumi. Malam ketika kelak ia akan membenci Kirana dan segala hal yang ada pada si mungil cantik itu. Malam ketika ia akan mempercayai bahwa sesosok bayi yang lahir dari rahimnya adalah buah cinta iblis. Malam ketika ia sangat membenci, lalu membunuh pria yang telah menodai hidupnya dua hari kemudian. Malam, ketika bunda diperkosa dan dihancurkan pria mabuk yang tak sengaja ia temui di tengah gelapnya desa ketika malam.

Thaaar…

Sebuah suara memecahkan keheningan seisi rumah. Sekaligus menyelamatkan bunda dari ingatan pahit beberapa tahun lalu itu. Tetapi, ingatan pahit itu berubah seketika menjadi amarah ketika bunda tau yang berbuat itu adalah Kirana, si mungil cantik anak iblis.

“Apa yang kau lakukan, Kirana?”

“Kirana mau mengambil gelas di rak itu, bunda. Tetapi ia malah jatuh. Maaf bunda.” Kirana memelas, dan perlahan air mata itu jatuh. Kepalanya menunduk, air matanya membasahi pipi, lalu menetes pelan ke atas lantai. Pipinya sudah siap menerima tamparan jatah siang hari ini.

“Dasar anak bodoh! Plakk! Tidak tau diri! Kita ini hidup sudah serba kekurangan. Dan kau malah memecahkan gelas kita!” ternyata benar, sebuah tamparan menimpa pipinya ketika memar tamparan pagi tadi belum hilang dari pipinya. “Dimana otakmu?” Dengan menunjuk-nunjuk dan mendorong kepala Kirana, lengkap sudah kemarahan Bunda siang ini.

Tangis Kirana bukan kali pertama dalam hari ini. Beberapa kali tamparan tentu saja diiringi sesenggukan Kirana. Si mungil cantik yang pipinya selalu memar sebab tamparan bunda. Si mungil cantik yang pipinya selalu sembab. Si mungil cntik yang merasa bunda adalah orang yang  paling ia sayang. Tetapi bagi bunda, Kirana adalah si anak pembawa sial. Anak paling kotor di dunia. Anak yang paling tidak bunda inginkan!

***

Hari ini Kirana sakit. Inilah satu-satunya jalan supaya ia tidak mendapat tamparan dari ibunya. Tetapi ia harus menyiapkan telinganya untuk selalu mendapat ekspresi kemarahan ibunya. Dan itu bukanlah obat bagi Kirana, tetapi penyakit lain yang akan menambah penderitaan Kirana. Bukan malah menyembuhkan Kirana, tetapi menambah sakit kirana.

Kian hari Kirana tak juga kunjung sembuh, semakin parah iya. Dan kemarahan bunda semakin menjadi-jadi. Kemarin ia muntah darah dari batuknya. Dan bukan obat yang bunda beri, tetapi amarah.

“Kau ini sakit apa? Kenapa tidak sembuh-sembuh ha? Menyusahkan saja!”

“Kirana tidak tau bunda.”  Air mata kembali membasahi pipi Kirana. Tangisan kembali menjadi nyanyian Kirana.

Akhirnya, dua hari setelah batuk darah. Kirana menyudahi penderitaanya. Kirana menyelesaikan tangisnya. Air matanya tak lagi jatuh, pipinya tak lagi memar. Tangisan tak lagi menjadi nyanyianya. Kirana bisa menyanyi sepuas hati dan tertawa sekerasnya. Tetapi ia tak memilih tertawa. Ia tak memilih bisa bernyanyi jika begini. Ia tak suka jika harus meninggalkan bundanya. Ia tak suka jika harus pergi dari kehidupan bunda, pun dari kehidupanya sendiri. Ia memilih untuk tinggal dengan bunda dengan amarah dan tamparan bunda. Tetapi ia tak bisa.

Bunda, Kirana tidak tau kenapa bunda suka sekali memarahi bunda

Bunda, Kirana tidak tau kenapa bunda suka sekali menampar Kirana

Kirana mungkin anak yang nakal, ya bunda?

Maafkan kesalahan Kirana, bunda

Kirana janji, kali ini Kirana tidak akan nakal di pangkuan Tuhan

Kirana janji, Kirana tidak akan membuat Tuhan menampar dan memarahi Kirana

Kirana janji, tidak akan memecahkan gelas Tuhan

Kirana akan menjadi anak bunda yang baik di hadapan Tuhan

Kirana sayang bunda

Bunda, izinkan Kirana mati

Tulisan tangan yang bunda temukan di bawah kasur Kirana membuat bukan air mata Kirana yang jatuh, tetapi air mata Bunda. Tulisan tangan khas anak-anak berusia 9 tahun menjadi saksi terakhir atas apa yang dikatakan Kirana untuk bunda yang paling ia sayangi. Dan kali ini, bukan Kirana yang akan dimarahi bunda, tetapi diri bunda sendiri.

Yogyakarta, 27 Maret 2018

Facebook Comments


(Next News) »



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *