Tasawuf : Obat terbaik adalah kembali pada-Nya

Oleh: Kamas Wahyu Amboro Sering kita merasakan sebuah keresahan yang mendalam. Rasanya jalan kebahagiaan tertutup, tak ada cahaya solusi yang datang. Terjatuh dalam lubang kemaksiatan hanya membuat kebahagiaan sementara dan kebahagiaan palsu. Pada hakikatnya hati ini terasa sedih dengan keadaan tersebut. Sebagai seorang manusia tentu kita akan mencari jalan yang indah tersebut. Ketahuilah kawan, satu-satunya jalan terbaik adalah kembali kepada-Nya. Yah, Dia yang telah menciptakan kita, Dia yang telah menghidupkan kita, membuat kita bisa melihat keindahan alam, mendengar kicauan burung, memiliki teman yang baik dan yang lainnya. Semua itu tak lain berasalRead More

Tips Meraih Beasiswa LN ala Kak Ikrom Mustofa, Alumni CSSMoRA IPB

Pada Sabtu, 26 Agustus 2017 yang lalu, pengurus CSSMoRA Nasional mengadakan diskusi online bertajuk “Menjadi santri prestatif, kreatif, dan inovatif” dengan pembicara kak Ikrom Mustofa, awardee LPDP di Universitas Wagenigen, Belanda. Kak Ikrom adalah alumni CSSMoRA IPB angkatan 2011 dan merupakan Wakil Ketua CSSMoRA IPB periode 2013/2014. Berikut ulasan diskusi tersebut. Diskusi tersebut dibuka dengan pertanyaan kritis “hari ini kita boleh mengkritisi banyak hal terkait komunitas kita, pemerintahan kita, namun sudahkah kita sadar dengan kontribusi kita? Peran kita sebagai pemuda? Karakter santri seperti apa yang dibutuhkan? “Jadilah agen perubahan!!”, tegasRead More

Puisi : Jika Kusaksikan Awan

Jika Kusaksikan Awan Oleh: Muhammad Naufal Waliyuddin   menagih janji kepadamu di tengah awan gemawan yang ranum ialah serupa memasukkan labu ke lubang jarum sebab awan pandai ingkar pada janji hujan tentang tempat bidikan yang ingin segera dijilatinya   jika kusaksikan ia menepati janji selalu saja ada gemuruh mata berlinang luka berserat kenangan lama: semenderita Adam berpisah Hawa   hakekatnya, jika kusaksikan awan jantung doaku: mata kami berdua senantiasa berjumpa, paling tidak, di wajah purnama yang sama Atas Toren, 2017 Facebook Comments

Kepingan Yaumus Sa’ah

Kepingan Yaumus Sa’ah Oleh: Muhammad Naufal Waliyuddin bila aku mengadu pada getah rembulan yang menetes di lidah bintang gemintang sambil bergelayut manja, cemasku, semoga tak menelurkan tanya yang tentu tak pula menetaskan jawab. Sebab mereka hanya perlu abai pada manusia yang aniaya ini: bahkan pada dirinya sendiri. dan jika ranting mahoni yang memeram lara di siluet malam itu mengigau tentang Nabi Isa dan Dajjal, lantas kenapa aku musti gamang tuk menuduh bahwa Yakjuj-Makjuj itu jenaka namun berbisa? ah, lupakan saja, toh, api yaman kini sudah disemai oleh ratusan ludah dari kepalaRead More

Puisi: Riwayat Tega

Riwayat Tega Oleh: Muhammad Naufal Waliyuddin   seonggok tikus terkapar mampus mungkin pembunuhnya sama dengan kriminal yang aniaya   tega memenggal leher-leher puisi yang tak indah tetapi gagah mengutuk kebiadaban dan berdarah kejujuran   para sastrawan tak piawai menyembunyikan borok negeri apalagi aibnya sendiri ketika puisi putus tepat di urat nadi maka, kita semua mati.   QQ , 2017 Facebook Comments