Berdakwah Lewat Novel

Oleh Moh. Salapudin

Buku bagus berjudul “Rethinking Pesantren” karya Nasaruddin Umar yang menjelaskan dengan cukup detail mengenai pesantren di Indonesia, sebagaimana diakui sendiri oleh pengarangnya, terbit dilatari oleh meruyaknya islamofobia di Barat. Nasar yang memiliki banyak pengalaman di Barat, merasakan sendiri impact dari islamofobia sehingga merasa perlu menganggit buku tersebut sebagai jawaban atas “salah sangka” itu. Perilaku islamofobia kentara di Barat, terutama -disebabkan oleh- peristiwa 11 September 2001 yang konon melibatkan Al-Qaeda. Pasca kejadian itu, perilaku islamofobia di Barat makin santer, dan tak tanggung-tanggung, beberapa orang Barat menyebut, “Islam is terorist”.

Potret demikianlah; dunia Barat dengan sikap islamofobia-nya, yang dialami Fahri dalam  novel “Ayat-Ayat Cinta 2” karya Habiburrahman el-Shirazy. Fahri tinggal di kawasan Stonehill Grove, sebuah perumahan di Edinburg, sebuah kota di United Kingdom (Britania Raya). Di sana Ia bertetanggaan dengan orang yang berbeda sama sekali, baik latar belakang maupun agamanya. Ada Nenek Catrina yang merupakan penganut Yahudi, Nona Janet: yang memiliki keluarga broken home dengan dua anaknya; Keira dan Jason yang belum mature.

Para tetangga itu hilir mudik masuk dalam kehidupan Fahri. Perilaku islamphobia yang ditunjukkan mereka pada Fahri, sungguh merupakan ujian yang tak mudah. Beberapa kali Fahri mendapati kaca mobilnya bertuliskan kalimat-kalimat yang menyudutkan Islam. Keira dan Jason, dua orang tetangganya itu menunjukkan sikap benci pada Fahri. Nenek Catrina juga sempat tidak suka pada Fahri akibat terpengaruh oleh orang-orang di Sinagog yang menyebut Fahri sebagai amalek justru setelah mengantarkan sang nenek ke Sinagog itu. Walhasil, di kompleks Stonehill Grove, Fahri yang tinggal berama paman Hulusi, orang berkebangsaan Turki yang pernah ditolongnya, mendapatkan banyak teror akibat perilaku islamofobia para tetangganya.

Meski mendapatkan perilaku yang tidak baik dari para tetangganya, Fahri tak pernah marah dan bahkan justru bersikap baik pada mereka. Ia pernah menolong tetangganya yang akibat mabuk tertidur di depan rumah. Ia membeli rumah Nenek Catrina yang dijual oleh anak angkatnya, lalu memberikan kembali rumah itu pada sang nenek. Ia juga menyekolahkan Jason, tetangganya yang sungguh bandel dan membiayai kursus biola Keira.

Bila meniti hari demi hari kehidupan Fahri dalam AAC 2, maka akan tampak bahwa sikapnya adalah sebagaimana sikap Rasulullah SAW. Inilah yang kemudian banyak dikritik sejak AAC yang pertama. Jika unsur realitas dalam sebuah karya sastra itu sangat penting, maka realitas Fahri memang hanya dimiliki oleh sosok Muhammad. Hanya Muhammad dan tak ada yang lain selain Muhammad. Artinya, dalam kehidupan nyata, bila seseorang dihadapkan pada persolan sebagaimana yang dihadapi Fahri, tentulah tak akan muncul perilaku Fahri sebagaimana dimunculkan oleh pengarang AAC. Sebab tak ada orang yang kesabarannya (sekadar menyebut satu sifat positif) melebihi kesabaran Nabi Muhammad.

Tetapi, Kang Abik, sapaan akrab Habiburrahman, bukanlah “sastrawan sekuler”. Menelaah tulisan Ahmadun Yosi Herfanda dalam prolog buku “Ketika Cinta Berbuah Surga”, karya sastra diklasifikasikan pada dua jenis, yaitu karya sastra edukaif (bertendens), dan karya sastra sekuler. Menurut Yosi, pada mulanya karya sastra adalah karya yang edukatif (ini bukan berarti karya sastra sekuler tak edukatif, ini hanya soal eksplisit-implisit sisi edukasi) . Itu terbukti dari kebiasaan orang-orang zaman dahulu yang mentradisikan budaya mendongeng di mana pesan moral (edukasi) dapat diperoleh dengan eksplisit. Kalau kita membaca novel lawas anggitan Marah Rusli, “Sitti Nurbaya Kasih Tak Sampai”, maka akan tampak sekali bahwa karya itu tergolong pada karya sastra bertendens. Dalam beberapa kesempatan dalam novel itu, Rusli bahkan menceramahi pembaca seakan-akan Ia sedang berada di mimbar pidato.

Tentu saja akan sangat berbeda jika kita bandingkan dengan karya-karya kontemporer yang menurut Yosi cenderung sekuler. Kalau membaca sebagian cerpen-cerpen Eka Kurniawan, Agus Noor, atau -apalagi- Djenar Maesa Ayu, misalnya, maka bukan saja “samar” dalam hal pesan moral, tetapi bahkan sering kali adegan-adegan ranjang yang dalam karya bertendens akan “disensor” dalam karya mereka tergambar dengan jelas. Kecenderungan pada karya kontemporer yang sekuler, adalah menyamarkan pesan moral (pengarang mempersilakan pembacanya untuk mengambil pesan moralnya). Mereka menganggap bahwa pembaca adalah orang yang berpengetahuan dan pandai menalar, sehingga tanpa dijelaskan dengan eksplisit pun, pesan moral akan tetap tersampaikan.

Aliran sastra yang diambil Kang Abik adalah aliran sastra yang bisa dinikmati semua kalangan: tukang becak, pekerja kantor, pegawai (siapa pun selagi dapat membaca). Sebab membacanya tak perlu penalaran tinggi. Berbeda dengan karya-karya sastra sekuler, yang umumnya membutuhkan kepekaan tinggi bahkan sekadar untuk memahaminya. Sebab Kang Abik menjadikan sastra sebagai “kendaraan” untuk berdakwah, maka pilihan itu adalah pilihan yang tepat.

Dongeng, cerita, novel, dan karya sastra lainnya, bisa mempengaruhi (influence) terbentuknya karakter seseorang. Teori pikologi kognitif menjelasskan bahwa apa yang dilakukan, dipikirkan, dan dikatakan seseorang, adalah resultate dari apa yang biasa dilihat, dibaca, dan didengar oleh orang tersebut. Maka bila seseorang membaca karya sastra yang bermuatan postif, akan besar sekali kemungkinan untuk meniru hal poitif dari karya sastra tersebut. Di sini lah potensi dakwah Kang Abik cenderung berhasil.

Berkaitan dengan hal ini, Komaruddin Hidayat dalam bukunya “Politik Panjat Pinang” pernah membuat analisis menarik bahwa maraknya perilaku koruptif di negeri ini, di antaranya dipengaruhi oleh dongeng “Si Kancil” yang merupakan binatang nakal dan suka mencuri timun. Meski suka mencuri timun, kancil digambarkan selalu bisa berkelit dari hukuman. Sosok kancil yang licik itu kemudian menjadi “idola” di pikiran banyak orang, sehinga bilamana bisa berperilaku sebagaimana si kancil (mencuri tapi bisa berkelit dari hukuman), adalah sebuah prestasi.

Penulis adalah Penikmat Buku, alumni PBSB UIN Walisongo Semarang.

 

Facebook Comments





Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *