BENANG KUSUT ARABISASI DAN WESTERNISASI

Oleh: Hamdi Putra Ahmad*

Sudah begitu lama, ide dalam tulisan ini terus menghantui pikiran saya. Sebuah ide, atau lebih tepatnya isu, yang akhir-akhir ini sering menjadi buah bibir yang tak hentinya diperbincangkan oleh banyak orang, terutama oleh mereka yang sangat sensitive dengan isu-isu yang bersinggungan dengan permasalahan agama. Apakah itu golongan yang dianggap berada di pihak yang kanan, maupun mereka yang dianggap berada di pihak yang kiri.
Ya, arabisasi dan westernisasi. Meskipun kedua istilah ini terlihat seperti istilah yang ilmiah, namun nuansa keilmiahannya tak membuat semua orang kesulitan dalam memahami makna dari keduanya. Mungkin, karena begitu sering diperbincangkan, membuat kedua istilah ini menjadi tidak asing lagi di telinga sebagian besar masyarakat Indonesia saat ini. Pun demikian, yang akan menjadi fokus pembicaraan kita kali ini bukan seputar ketenaran dua istilah tersebut, namun lebih kepada bagaimana cara menyikapi permasalahan yang muncul akibat kedua istilah ini secara bijak.
Sebelum masuk pada pembahasan langsung mengenai arabisasi dan westernisasi, mari kita preteli sedikit mengenai beberapa poin yang dapat dijadikan pengantar untuk menuju ke sana.
Anda mungkin sering mendengar apa yang disebut dengan kaum radikal dan kaum liberal. Kaum radikal “sering” dianggap sebagai suatu kelompok yang memiliki pemahaman yang sangat fanatic terhadap agama yang mereka anut. Sedangkan kaum liberal “sering” dianggap sebagai suatu kelompok yang memiliki pemahaman yang penuh pertimbangan, bebas, dan terbuka terkait permasalahan agama, –yang dalam pemahaman kebanyakan orang— sangat bertolak belakang dengan kaum radikal.
Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah, benarkah kedua istilah ini saling bertolak belakang? Dan benarkah apa yang sering dipahami masyarakat mengenai kedua istilah tersebut sudah benar-benar dipahami secara objektif? Mari kita analisis.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), arti dari kata radikal adalah; secara mendasar (sampai kepada hal yang prinsip). Sedangkan arti dari kata liberal adalah; bersifat bebas; berpandangan bebas (luas dan terbuka). Jika dikaji secara mendalam, anda akan menemukan bahwa, meskipun mereka memiliki makna yang berbeda, namun mereka tidaklah saling berlawanan, bahkan dapat dikatakan memiliki tujuan yang sama.
Lho, kok bisa?
Ya, tentu bisa. Berpikir dan memahami secara radikal, berarti berusaha untuk memahami sesuatu dengan usaha yang maksimal, penelitian yang mendalam, hingga melakukan pengecekan sampai pada hal-hal yang mendasar. Sampai akhirnya menemukan sesuatu secara utuh dan sempurna (dari segi internalnya), serta mengetahui maksud sebenarnya dari objek yang dipelajari. Tentunya ini merupakan hal yang positif, dan tidak menuai penolakan dari pihak mana pun. Sekali lagi ingat, ini merupakan kajian secara objektif. Bukan berdasarkan asumsi-asumsi yang kebanyakan berkembang di tengah masyarakat saat ini.
Bagaimana dengan liberal? Ya, sama saja. Berpikir secara liberal, berarti berpikir dengan mempertimbangkan banyak hal, menghubungkan suatu objek dengan objek-objek yang lain, melakukan sinkronisasi, serta berpikir secara terbuka, guna mencapai suatu pemahaman yang sempurna melalui integrasi-integrasi tertentu. Tujuannya, tentu saja untuk memperoleh pemahaman yang kompleks dan sempurna terkait suatu objek yang dipelajari.
Radikal dan liberal merupakan dua bentuk pola pikir yang memiliki cara kerja yang memang berbeda, namun mempunyai alamat yang sama, yaitu sama-sama bertujuan untuk memperoleh pemahaman yang sesungguhnya. Bahkan, antara radikal dan liberal terdapat sebuah keterkaitan yang tidak mungkin dipisahkan antara satu dengan yang lainnya. Keduanya mesti saling menopang demi mencapai satu tujuan yang sama, yaitu pemahaman yang kompleks. Radikal tanpa liberal akan melahirkan pemahaman yang cenderung tertutup. Dan liberal tanpa radikal akan melahirkan pemahaman yang asal-asalan dan cenderung tidak berdasar.
Ibaratkan sebuah tangga, berpikir secara radikal dan liberal adalah satu kesatuan yang mesti ditempuh secara berurutan dan tertib. Tangga pertama yang mesti dilalui adalah berpikir secara radikal, yang artinya, mempelajari suatu objek secara mendalam, spesifik, detail, dan maksimal. Setelah semua itu ditempuh, maka anda mesti melangkah ke tangga yang kedua, yaitu berpikir secara liberal. Yaitu berpikir secara terbuka dan berani untuk melakukan berbagai integrasi dengan hal-hal lain yang ada di luar objek yang tengah dipelajari. Tujuannya? Ya, agar tercapainya pemahaman yang benar-benar kompleks dan sempurna, tanpa menafikan satu aspek apapun.
Sekali lagi, pemaknaan saya terhadap liberal di sini terlepas dari asumsi-asumsi yang banyak berkembang di masyarakat saat ini. Ini adalah kajian yang mencoba untuk tetap objektif, berdasarkan makna yang diperkenalkan di dalam referensi yang sesungguhnya.
Apakah anda merasa janggal dengan pernyataan yang saya tuangkan di atas, bahwa suatu objek yang telah dikaji secara mendetail dan mendalam itu perlu diintegrasikan dengan hal-hal yang lain, agar dapat ddiperoleh pemahaman yang benar-benar sempurna? Jawabannya ada pada diri anda masing-masing. Namun yang terpenting adalah, bagaimana kita mampu memahami agama yang kita anut ini secara mendalam dan kompleks. Tentunya dengan tidak menafikan aspek-aspek lain yang berkembang di luar agama itu sendiri. Tujuannya ialah, agar agama mampu menjadi pondasi utama yang fleksibel dan cocok untuk segala kondisi dan zaman.
Agama islam yang kita anut, bukanlah sebuah agama yang tertutup, apalagi sempit. Ia merupakan sebuah agama yang sangat mengerti dengan perkembangan dan kondisi zaman. Islam bukanlah suatu agama yang ingin menyendiri. Bahkan ia bertujuan untuk mengayomi semua kalangan, tanpa terkecuali. Berpikir radikal terhadap agama, berarti berupaya untuk menggali maksud-maksud sebenarnya dari agama itu sendiri.
Setelah itu semua tercapai, liriklah hal-hal yang berada di luar lingkup agama itu, untuk selanjutnya akan diintegrasikan dengan agama. Apa sikap agama terkait permasalah itu, dan bagaimana cara menyikapi hal-hal yang berada di luar agama tersebut. Bagaimana caranya? Tentu dengan berpikir secara terbuka. Terbuka, berarti liberal. Liberal yang mana? Liberal yang tidak lari dari dasar-dasar dan prinsip keislaman yang sesungguhnya.
Kembali pada pembahasan inti, terkait arabisasi dan westernisasi. Bagaimana cara kita menyikapinya? Mari kita ulas secara perlahan.
Arabisasi, seperti yang sering diperbincangkan saat ini, sering dikaitkan dengan kaum radikal. Mereka dianggap sebagai orang-orang yang terlalu fanatic dalam beragama. Hingga cara berpakaian, cara makan, cara berkomunikasi, dan cara-cara yang lain yang berbau arab dikaitkan dengan kaum yang bernama radikal ini. Ups, tunggu dulu. Apakah arabisasi itu muncul dari orang-orang yang berpikir secara radikal? Mari kita kembali pada pengertian yang di atas.
Radikal, adalah suatu cara berpikir yang mendalam tentang suatu objek yang dikaji. Jika objek yang dikaji adalah agama islam, maka radikal mengandung pengertian bagaimana mempelajari agama islam secara mendalam. Lantas pertanyaannya, apakah orang-orang yang sungguh-sungguh mempelajai islam itu akan beranggapan bahwa segala hal yang berbau arab adalah islam? Atau semua yang diajarkan dalam agama islam adalah cerminan dari tradisi dan kebudayaan arab? Atau lebih singkatnya, apakah mereka menganggap islam itu adalah arab, dan arab adalah islam?
Jawabannya, jika memang ia sungguh-sungguh dalam memahami islam secara radikal, tentu hal tersebut tidak akan terjadi. Kecuali jika ia mengalami kekeliruan dalam proses berpikir secara radikal itu sendiri.
Sebenarnya, tidak ada yang salah dengan berpakaian seperti orang arab, atau memanjangkan jenggot, atau apalah namanya yang berbau arab. Yang menjadi masalah itu hanyalah jika apa-apa yang berbau arab itu dianggap sebagai bagian dari agama islam, hingga akhirnya beranggapan bahwa orang-orang yang tidak mengikutinya adalah orang-orang yang mengingkari ajaran agama islam.
Seseorang yang berpikir secara radikal tentang agama islam, yaitu dengan mempelajarinya secara mendalam, tidak mungkin akan berpikiran sesempit itu. Setidaknya dengan mengetahui bahwa agama islam merupakan agama yang rahmatan lil alamin dan mampu mengayomi semua golongan, maka munculnya anggapan bahwa semua hal yang berbau arab itu merupakan bagian dari agama tidak akan terjadi. Kalaupun hal itu terjadi, menurut hemat saya, orang tersebut belumlah disebut sebagai seseorang yang berpikir secara radikal. Atau, radikal nya masih setengah-setengah.
Namun intinya, selama dalam berpenampilan seperti orang arab, berpakaian gamis, atau memanjangkan jenggot itu tidak dilandasi dengan anggapan bahwa semua itu adalah bagian dari ajaran islam yang wajib untuk diikuti, sehingga menjadikan orang-orang yang tidak mengamalkannya dianggap sebagai orang yang mengingkari agama, itu merupakan hal yang sah-sah saja. Enjoy saja, karena itu hanyalah pilihan pribadi dari masing-masing orang.
Dan saya secara pribadi adalah orang yang paling menentang aksi pencemoohan terhadap orang-orang yang memanjangkan jenggot, mengenakan gamis, atau para wanita yang mengenakan cadar. Ditengah maraknya pencemoohan terhadap mereka, saya adalah orang yang paling tidak suka dengan aksi tersebut. Hal itu sama saja dengan melanggar hak asasi setiap orang.
Apa salahnya mereka mengenakan gamis, atau bercadar, atau memanjangkan jenggot, toh itu adalah pilihan masing-masing. Sama saja ketika kita mengenakan celana jeans dan kaos oblong, bolehkah mereka melarang kita? Bukankah semua itu berasal dari Barat, dan bukan budaya kita sebagai masyarakat Indonesia? Ya, tentu saja tidak. Karena hal itu adalah pilihan masing-masing orang. Begitu juga dengan mereka yang berbaju gamis dan bercadar.
Nah, disinilah terkadang terjadi ketimpangan social. Entah karena mereka alergi dengan agama islam, sehingga segala yang berbau arab selalu menjadi sasaran ejekan. Atau, karena mereka yang terlalu sempit dalam berpikir, sehingga semua yang berbau Barat tidak masalah untuk ditiru, dan segala yang berbau arab menjadi hal yang patut untuk diejek dan dicemooh.
Anggapan bahwa para teroris –yang akhir-akhir ini marak diperbincangkan— merupakan orang-orang yang radikal, menurut saya juga patut untuk dipertanyakan. Sebab, kajian mendalam terhadap Islam tidak mungkin akan melahirkan suatu bentuk kekerasan dan kezhaliman terhadap orang lain yang tak bersalah. Mereka hanyalah orang-orang yang setengah-setengah dalam memahami agama Islam. Maka tentu saja tidak dapat dikategorikan sebagai orang yang berpikir secara radikal.
Lalu bagaimana dengan westernisasi?
Menurut saya, tidak ada yang salah dengan westernisasi, seperti memakai kaos oblong, mengenakan celana jeans, memakai kacamata raybean, dan lain sebagainya. Asalkan, sesuatu yang ditiru itu adalah hal-hal yang mengandung manfaat dan tidak menyalahi garis-garis yang telah diatur oleh agama.
Tak dapat disangkal, bahwa arus globalisasi yang kini kian memuncak telah menggiring kita secara sukarela maupun terpaksa untuk mengonsumsi berbagai produk yang berasal dari segala penjuru. Maka, kita lah yang seharusnya pandai-pandai memilah dan memilih hal-hal yang patut untuk dikonsumsi dan mana yang tidak.
Belakangan ini juga sering muncul asumsi-asumsi negative dari beberapa kelompok tertentu yang cenderung alergi dengan pemikiran-pemikiran yang berasal dari Barat. Bahkan hal ini sudah terjadi semenjak ribuan tahun yag lalu. Apakah itu mengenai filsafat, hermeneutika, semiotika, dan lain sebagainya.
Bahkan ada yang mengatakan, bahwa semua itu tidak boleh dipelajari oleh umat islam, karena dianggap akan menggoyahkan keimanan mereka, karena berasal dari Barat. Hmm, tunggu dulu. Saya agak sangsi dengan pernyataan ini. Jangan-jangan ada yang salah dari pola pikir mereka.
Seperti yang kita ketahui bersama, agama islam mengajarkan kita untuk ber-tabayyun sebelum menilai atau mengklaim segala sesuatu. Saya kira kita semua tahu dengan sebuah ayat yang menyatakan bahwa jika ada seseorang yang fasiq datang (dengan membawa berita) kepadamu, maka kamu mesti melakukan check and recheck (klarifikasi) terlebih dahulu (Q.S. Al-Hujurat: 6). Nah, saya kira pesan mulia ini mesti kita amalkan terhadap kasus di atas.
Filsafat, hermeneutika, atau semiotika memang merupakan suatu produk pemikiran sekaligus menjadi suatu bentuk pola pikir yang awalnya ditemukan oleh ilmuan-ilmuan Barat. Dan, semua itu diperoleh bukan dari tuntunan wahyu, sebagaimana yang ditemukan dalam ilmu-ilmu Islam, seperti tafsir, hadits, fiqh, dan lain sebagainya.
Namun perlu diingat, ilmu-ilmu ini muncul dari hasil usaha mereka untuk menemukan ilmu-ilmu baru, yang tentunya diperoleh dari hasil pengamatan mereka terhadap lingkungan atau pengalaman yang mereka alami. Bahkan, seiring berkembangnya zaman, ilmu-ilmu tersebut telah disusun dan terus dikembangkan secara sistematis dari awal penemuannya hingga saat ini. Nah, ini merupakan pencapaian yang amat luar biasa dan patut diapresiasi.
Umat Islam seharusnya juga ikut terlibat dalam perkembangan ilmu-ilmu ini. Apa tujuannya? Tentunya agar kita dapat mengerti dengan apa yang mereka temukan, dan agar kita tidak mudah tertipu dengan segala informasi yang saat ini sangat dengan mudah tersebar. Pun, jika saat ini begitu banyak orang-orang yang menyatakan bahwa ilmu-ilmu yang tersebut di atas adalah ilmu yang berbahaya, tentunya kita harus membuktikan terlebih dahulu kebenaran apa yang mereka nyatakan.
Bagaimana caranya? Ya tentu saja dengan mempelajari secara langsung ilmu-ilmu tersebut, apa yang dibahas didalamnya, dan apa yang membuat ia dianggap sebagai ilmu yang berbahaya. Bukan dengan cara menghindarinya, lalu dengan serta merta ikut mencelanya. Padahal kita belum melakukan tabayyun terhadap ilmu-ilmu tersebut. Sebab, jika kita percaya begitu saja dengan omongan orang lain, tanpa mencoba untuk membuktikannya, tentu kita termasuk orang-orang yang telah mengabaikan semangat yang diberikan oleh ayat di atas.
Seperti itulah seharusnya tindakan yang dilakukan umat Islam dalam menyikapi Arabisasi maupun westernisasi. Segala sesuatu mesti dikaji terlebih dahulu secara mendalam, setelah itu baru memberikan justifikasi. Bahkan sebuah justifikasi pun tidak dapat diucapkan begitu saja, sebelum kita benar-benar yakin dan memastikan kebenaran kesimpulan yang terbesit dalam pikiran kita. Setidaknya pesan dalam surat Al-Hujurat ayat 6 di atas mampu menyadarkan kita untuk selalu berhati-hati dalam memberikan justifikasi terkait persoalan apapun.
Imam al-Ghazali tidak akan berhasil menjadi seorang yang berpengaruh di lingkungan kerajaan di masanya, atau diberi gelar sebagai Hujjah al-Islam jika sebelumnya ia tidak ikut terlibat dalam mempelajari ilmu-ilmu yang sebagian berasal dari Yunani. Seorang Ibnu Sina tidak akan mampu menjadi seorang dokter kenamaan dunia yang menjadi kebanggan kita umat islam, jika sebelumnya tidak mempelajari metode berpikir yang diserap dari bangsa Yunani.
Semua itu berjalan dengan baik, karena mereka tetap mampu memilah mana yang perlu untuk diambil dan mana yang tidak. Mereka pun telah berhasil mengamalkan semangat al-Quran surat Al-Hujurat ayat 6, tentunya dengan cara ber-tabayyun terhadap segala sesuatu yang datang kepada mereka.
Wallaahu a’lam

* Penulis adalah anggota CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta angkatan 2015 jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir

Facebook Comments





Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *