Aliran Dana Gerakan Radikalisme di Indonesia

KH Aqil Siradj kali ini beliau memberikan wawasan kepada umat Islam di Indonesia serta warga Negara Indonesia akan gawatnya gerakan radikalisme di Indonesia. Berikut petikan wawancara dengan beliau:

Menurut prediksi Kyai segawat apa Radikalisme di Indonesia?

Ya kita semua harus waspada, bukan hanya aparat, tapi juga warga NU. Jaga keluarga jangan sampai anak tiba-tiba jenggotnya panjang, tiba-tiba bergamis dan bercelana cingkrang atau tiba-tiba bercadar. Sejak dini harus diantisipasi Insya Allah tidak akan membesar. Agendanya ISIS tahun 2017 masuk ke Indonesia tahun 2022 Indonesia sudah harus jadi khilafah, itu tujuan mereka.

Alasan yang digunakan adalah karena Indonesia muslim terbesar di dunia tapi alasan yang sebenarnya adalah menguasai sumber daya alam, sebagaimana yang dilakukan ISIS di Suriah dan Irak. Mereka menguasai ladang-ladang minyak.

Yang melahirkan ISIS itu adalah Mus’ab Zarqawi, warga negara Jordan yang tinggal di Tel Aviv, dia bertato. Abu Bakr Al Baghdadi nama aslinya Ibrahim bin Awwad bin Ibrahim Al Badri. Dia dari Al Qaeda Irak. Osama bin Laden terbunuh maka Al-Qaeda redup. Abu Bakr ambil ISIS dan berhasil mengacaukan dunia Islam dan tatanan kehidupan dengan kesadisannya.

Artinya kita harus Waspada?

Yang harus diwaspadai bukan semata-mata ISIS tapi radikalismenya. Mewaspadai pesantren dan yayasan yang mengajarkan ajaran yang melihat secara hitam-putih, yang radikal yang ekstrem, yang anti kebhinekaan. Basis ideologinya Wahabi. Wahabi sendiri bukan teroris, malah wahabi mengutuk terorisme. Tapi ajarannya membuka peluang terjadinya radikalisme dan terorisme. Kalau anak-anak muda didoktrin tawasul, ziarah kubur, maulid nabi bid’ah, sesat, dan kafir, bisa-bisa nanti orang NU dibunuh dong. Ini kan bibit radikalisme dan terorisme. Makanya anak-anak pengebom itu keluaran pesantren wahabi, bukan keluaran pesantren Lirboyo, bukan keluaran pesantren Tebuireng Jombang, bukan. Patut diduga tujuan utama radikalisme dan terorisme untuk menghabisi NU.

Kabar dana terorisme dari Saudi itu bagaimana?

Dana itu bukan dari pemerintah Saudi, melainkan mengalir melalui LSM. Pertama kali masuknya Wahabi kan dari LIPIA dibangun di Indonesia pada tahun 1980 yang direkturnya Abdul Aziz Ammar, seorang bujangan dapat istri keturunan Arab Bogor. Melalui dia mengalirlah dana dakwah Wahabi ke Indonesia.

Betapa terbukanya negara Indonesia ini, orang Saudi bebas mengalirkan dananya untuk ekspor ideologi transnasional dengan dalih dakwah dengan mendirikan pesantren-pesantrennya.

Apakah banyak masjid-masjid NU yang dikuasai atau diambil alih oleh gerakan wahabisme?

Sebetulnya tidak banyak, masih lebih banyak masjid Muhammadiyah yang diambil Wahabi. Fenomena masuknya wahabi di masjid-masjid NU ini pelan-pelan. Awalnya mengabdi katanya. Membersihkan masjid, trus tidak minta honor mereka, lama kelamaan ikut rapat. Dia usul Jum’at depan yang khotbah si “A” ya.. Datanglah pengkhotbah yang radikal. Yang ketahuan sudah kita usir itu, seperti di Cianjur. Masjidnya dibantu oleh Saudi terus ulamanya Wahabi. Jamaah NU menolak semua. Warga NU mengancam kalau imamnya masih orang itu, warga Nu tidak mau shalat Jum’at di situ.

Walhasil Arab sekarang sedang kehilangan semuanya. Coba di Irak itu yang negbom siapa, tujuannya apa, yang dituju siapa tidak jelas. Di Irak ini tidak ada yang mengaku, ini lebih berbahaya. Ini menunjukkan masyarakat sudah frustasi. Ini sudah caos seperti tidak ada pemerintahan.

Yang mendanai Al Qaeda itu dari Saudi dan Israel. Tujuan pengeboman situs-situs Islam seperti pengemboman terbaru di makam Sayyidah Zaenab di Suriah supaya Islam tidak punya lagi kebanggan, supaya Islam kehilangan identitasnya.

Bagiaman Hubungan NU dengan para Habaib?

Dulu jaman KH Idham Khalid, NU merangkul habaib. Begitu jaman Gus Dur agak jauh habaibnya. Masalahnya kebanyakan habaib belum sadar betapa pentingnya berorganisasi. Dan kita (PBNU) ingin akan eratkan kembali hubungan dengan para Habaib.

Sekarang terbalik balik, yang pakai dasi radikal pandangannya tapi yang pakai sarung pandangannya moderat. Di tubuh NU dalam Bahtsul Masail contohnya, moderat sekali. NU tidak terburu-buru memfatwakan haram asuransi. Mengapa orang berdasi menjadi radikal? karena dia sudah kaya sudah. Dia ingin dianggap soleh. Nah ingin jadi orang soleh cari yang instan. Langsung jenggot dipanjangkan, pakai gamis, di mobilnya ada sajadah. Mereka akan tertolak sendiri karena masyarakat kita ini aslinya sarat dengan tradisi-tradisi. Memang di masyarakatnya tidak ada maulid nabi, tidak ada tahlillan, tidak ada ziarah kubur?

Kita berangkat dari Islam Nusantara, kita pertahankan NKRI, kita pertahankan budaya, tradisi, kekayaan alam. Jaga laut, air, hutan, mineral, tambang, jaga pula peradaban kita. Islam nusantara mengalami puncaknya ketika ulama nusantara menjadi pengajar di Masjidil Haram. Sekarang Masjidil Haram dikuasai Wahabi. (Islamnusantara.com)

Facebook Comments





Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *