AIESEC Global Volunteer, Vietnam.

Sempat Menjadi Minoritas Muslim,Tak Mengalangi Rasa Peduli
Selama enam minggu(06/07-16/08), salah satu anggota CSSMoRA UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yakni Nuri Zayanah yang merupakan mahasiswi jurusan farmasi angkatan 2015, bertandang ke negeri Vietnam dalam kegiatan AIESEC Global Volunteer. Berbeda dengan program exchange pada umumnya yang memberikan kesempatan bagi mahasiswa Indonesia untuk menempuh pendidikan di Universitas luar negeri, program exchange yang diadakan oleh AIESEC ini dirancang untuk memberikan kesempatan bagi mahasiswa Indonesia untuk berpartisipasi dalam menjalankan project sosial berskala Internasional di luar negeri selama 6 hingga 8 minggu. Program Global Volunteer ini bertujuan untuk mengoneksikan anak – anak muda dari seluruh dunia agar mereka bisa saling memahami satu sama lain serta memiliki pandangan yang sama tentang kondisi dunia saat ini sehingga nantinya mereka dapat menciptakan dunia yang lebih baik di masa yang akan datang. Project yang dijalankan memiliki isu yang beragam seperti edukasi, budaya, lingkungan, kesehatan hingga entrepreneurship. Seperti halnya yang dilakukan oleh Nuri yang menjadi relawan pengajar bahasa Inggris di Kinh Mon, Hai Duong, Vietnam untuk anak-anak kurang mampu berumur 5-17 tahun. Tentu saja tidak sendiri, karena pengajar dari berbagai negara seperti Thailand, Singapura, Spanyol, dan Italia selalu berdatangan. Selain mengajar para relawan juga mengeksplor budaya Vietnam dan saling mempelajari budaya dari masing-masing negara. “Jujur, perasannya campur aduk, karena benar benar keluar dari zona nyaman. Di desa itu kayaknya cuma aku doang yang muslim terus pake kerudung, jadi kalo jalan jalan gitu masih suka diliatin secara terang-terangan,” begitu ungkapan Nuri yang sempat merasakan sebagai muslim minoritas kala itu. Berbeda dengan simposium internasional yang pernah ia ikuti sebelumnya, Nuri dan teman-teman volunteer lain harus tinggal di desa dan benar-benar merasakan hidup seperti Vietnamese, bertemu dengan teman-teman yang sangat berbeda latar belakang budaya dan agama, belajar bagaimana cara mengajar bahasa Inggris yang efektif, menarik, efisien.”But overall, aku senang banget punya pengalaman enam minggu di negeri orang, senang punya temen temen dari negara negara lain yang sampai sekarang masih komunikasi, senang banget bisa belajar ngajar, belajar budaya negara lain, belajar memahami orang lain yang berbeda latar belakang,belajar memahami bagaimana cara mengajar yang menarik. Menurut aku,ini pengalaman yang sangat berharga banget”, tutur alumni Pondok Pesantren Pesantren Al-Ishlah Lamongan Jawa Timur itu. Nuri berharap setelah kegiatan tersebut ia bisa menjadi pribadi yang lebih disiplin, berani dalam menggambil keputusan, improving english ability, dan tentu berharap memiliki gerakan yang bisa membantu meningkatkan kemampuan bahasa Inggris anak-anak Indonesia, khususnya yang ada di pedesaan.”Gunakan waktu luang dengan sebaik baiknya, gunakan kesempatan yang ada di depanmu. Jangan pernah takut! Selagi bisa, kenapa engga?”, pungkasnya.

Facebook Comments





Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *