BUMI

Dai Firda

“Aku akan mati.” Ucapnya sambil merundukkan kepala.
“Jangan terlalu banyak menyerah. Harimu masih panjang.” Kutepuk bahunya dua kali. Lalu kurangkul ia, “kau akan tetap hidup. Aku yakin!”
“Tubuhku telah rapuh. Kulitku telah keriput. Mulutku banyak bermuntahkan darah yang tak jemu keluarkan diri. Aku benar-benar lelah dengan hidup ini.” Ia semakin merundukkan kepala hingga wajahnya kelam tak terlihat.
“Sabarlah. Kuatkanlah dirimu. Masih banyak manusia yang membutuhkanmu” aku mencoba meyakinkannya dengan tatapan dan anggukan pasti.
“Tapi mereka tak mencintaiku” Ia melepas telapak tangan kananku yang masih menempel di bahunya, “biarlah mereka merasakan akibat ulahnya sendiri.” Ia pergi menuju jendela tua di pojok ruang.
“Masih banyak kok yang mencintaimu, aku yakin!” Kuikuti langkahnya sampai tubuhku lebih mendahului dan berada lebih dekat dengan jendela.
:Keyakinanmu takkan tergoyah untukmu yang masih berumur lebih panjang. Dan aku? Rambutku sudah banyak rontok. Bahkan akar-akar di tubuhku telah habis terkikis” Ia melewatiku tanpa menoleh sedikitpun. Pandangannya jatuh pada jagad raya yang luas.
“Napasku akan segera habis. Oksigen dalam tubuhku makin haru makin terkuras. Biar jantungku jadi tumbal akan alam yang kacau balau.” Ia terus menatap luar jendela yang tertutup rapat.
Udara di luar ruangan mengetuk kaca jendela berkali-kali. Memberi dorongan tuk ikut masuk menuju celah jendela yang sedikit terbuka. “Ketika jendela ini rusak, akupun akan ikut mati.” Ia mengelus lembut kaca jendela yang lusuh.
“Mengapa demikian?” Mataku terbelalak. Jantungku berdebar dibuatnya.
Sebelum ia menjawab apapun, tiba-tiba angin berlarian semakin kencang. Membuat pakaian yang kukenakan semakin melekat dan menampakkan bentuk sekujur tubuh. Debu-debu bertebaran. Menyisir ketajaman pandanganku. Menghalangi ruah pertanyaanku. Membuatku harus membentenginya dengan lengan tangan yang tak cukup sanggup menghalangi.
Tegak tubuh hampir roboh. Kaki tak sanggup lagi berdiri. Gerak udara telah menggeserkan tubuh ke belakang. Hingga menabrak sebuah tiang kayu di tengah ruangan. Sehingga ku harus berpegangan lagi agar tak sampai roboh semakin jauh.
Beberapa saat ketika ku masih khusyuk melindungi diri. Angin tiba-tiba tak berasa. Seperti ada kunci yang telah menahannya pergi. Pakaianku kembali jatuh dan tak lagi ingin berlarian ke belakang. Kubuka mata perlahan. Menghindarkan tangan yang sedari tadi menjadi tembok pertahanan. Namun seketika itu aku terkejut. Apa yang di depanku tak lagi seperti sebelumnya. Hamparan rumput hijau telah hilang. Tergantikan padang pasir yang panas nan gersang. Ruangan yang kutempati tak lagi ada. Ambruk. Jendela telah pecah bersama bangunan retak. Dan ia telah hilang. Sebelum aku ucapkan selamat tinggal.

Facebook Comments





Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *