Selasa, Agustus 29th, 2017

 

Kepingan Yaumus Sa’ah

Kepingan Yaumus Sa’ah Oleh: Muhammad Naufal Waliyuddin bila aku mengadu pada getah rembulan yang menetes di lidah bintang gemintang sambil bergelayut manja, cemasku, semoga tak menelurkan tanya yang tentu tak pula menetaskan jawab. Sebab mereka hanya perlu abai pada manusia yang aniaya ini: bahkan pada dirinya sendiri. dan jika ranting mahoni yang memeram lara di siluet malam itu mengigau tentang Nabi Isa dan Dajjal, lantas kenapa aku musti gamang tuk menuduh bahwa Yakjuj-Makjuj itu jenaka namun berbisa? ah, lupakan saja, toh, api yaman kini sudah disemai oleh ratusan ludah dari kepalaRead More


Puisi: Riwayat Tega

Riwayat Tega Oleh: Muhammad Naufal Waliyuddin   seonggok tikus terkapar mampus mungkin pembunuhnya sama dengan kriminal yang aniaya   tega memenggal leher-leher puisi yang tak indah tetapi gagah mengutuk kebiadaban dan berdarah kejujuran   para sastrawan tak piawai menyembunyikan borok negeri apalagi aibnya sendiri ketika puisi putus tepat di urat nadi maka, kita semua mati.   QQ , 2017


Puisi : Usai Doa

Usai  Doa Oleh: Muhammad Naufal Waliyuddin   selesai menggumamkan doa semalam apa tujuanmu pagi ini? sederhana saja: kupikul cangkul ke sawah lalu istirahat di gubuk kayu berharap kekasihku menyeduhkan secangkir waktu untuk dinikmati bersama sambil berbincang dengan diri yang tlah lama sunyi   sampai lidah tak bergerak lagi.   Kembangsore, 2017


Puisi : Mabuk Kata

Mabuk Kata Oleh: Muhammad Naufal Waliyuddin   relakan aku menjadi embun untuk tertelan angin lantas mengepalkan tangan merangkai awan gemawan   sebab telah kutemukan gumpalan kata bermakna juwita yang nyaris memaksa sakit jiwa   kemudian kata tiba di savana tergulung di dalam karung ditengguluk Pak Tua berjanggut merah untuk digadaikannya dengan sebenih harga diri yang tlah lama lenyap di wajah bumi   Andhita, 2017