Kamis, Oktober 6th, 2016

 

Nasionalisme Perspektif Kitab Pesantren

Oleh : Idris Masudi Tradisi menulis –dalam aksara Arab, Jawi-Pegon- di kalangan ulama-kyai Nusantara sudah berlangsung sejak puluhan tahun bahkan ratusan tahun yang lalu. Beberapa di antaranya malah menjadi karya monumental dan diakui oleh dunia intelektual. Sirajuth Thalibin misalnya, sebuah karya yang dianggit oleh Kiai Ihsan Jampes Kediri, konon pernah menjadi bahan ajar “muqarrar”di sebuah kampus Islam ternama di Kairo, al-Azhar as-Syarif. Produktifitas ulama dan Kyai Nusantara dalam menulis karya berbahasa Arab juga bisa dilihat dari sosok KH. Sahal Mahfudz –Allahu Yarhamhu-. Karya-karya beliau sebagian besar mengupas disiplin ilmu ushulRead More


Membumikan Jihad dari Pesantren

Oleh : Irfan Idris Reaktualisasi makna jihad merupakan kerja akademik yang harus berlanjut secara sistematis, berkelanjutan, interdisipliner, akomodatif yang akulturatif dan holistik edukatif. Fenomena yang tidak humanis agamis saat ini adalah adanya pemaknaan jihad yang monopilistik politis kearah yang represif kriminal oleh kelompok radikal anarkis mewarnai mind setmasyarakat dunia. Bukan hanya sebatas mewarnai, akan tetapi melibatkan banyak generasi muda terpengaruh pemikiran yang radikal bahkan rela melakukan aksi bom bunuh diri ditengah khalayak ramai. Mereka adalah small group big plan, sementara masyarakat madani dan masyarakat kampus, akademisi, tokoh agama, tokoh budayaRead More


Komitmen Umat Islam terhadap Pancasila

Oleh : Abdul Malik Pada tahun 2014, Pusat Studi Islam dan Pancasila (PSIP) FISIP UMJ melakukan survei nasional mengenai relasi Islam dan Pancasila. Survei melibatkan 100 responden di tingkat provinsi, yang terdiri atas pengurus Muhammadiyah 40%, NU 40%, FPI 1%, HTI 1%, MUI 17%, dan GPII 1%. Hasilnya sangat menggemberikan dengan 100% menyatakan setuju Pancasila menjadi dasar negara. Kuatnya Pancasila sebagai ideologi Negara didasari bahwa nilai Islam tidak bertentangan dengan Pancasila, sebanyak 95% menyetujui dan hanya 5% menyebut saling bertentangan. Survey tersebut paling tidak dapat menjadi acuan untuk mengukur responRead More